Thursday, September 22, 2011

Mmm..sawi hijau hasil panenku enaak!


Bagi beberapa anak, sulit sekali membujuknya makan sayur. Tapi kali ini tidak demikian. Semua anak terlihat sangat menikmati makan sawi hijau campur baso!. Apa istimewanya sayur sawi hijau yang ini?! Begini ceritanya..

Suatu hari bunda Athira membawa bibit sawi hijau. Anak-anak pun semangat menanamnya di backyard sekolah. Masing-masing kelas diberikan lokasi yang terpisah…PG menanam di lahan ‘S’, TKA di lahan ‘R’ dan TKB di lahan ‘T’. Setiap hari anak-anak menyiram bibit sawi mereka dengan rajin. Teachers mengajarkan mereka untuk mencabut juga rumput liar yang tumbuh disekitarnya.
‘Kenapa rumput di cabut, Kak?’ Tanya anak-anak. ‘Iya, karena kalau ngga dicabut, sawi kita kekurangan zat makan, ngga bisa tumbuh sehat’

Tetapi kemudian libur lebaran…panjang sekali libur lebarannya, tetapi tidak perlu khawatir..Mbak Sarti janji merawatnya!

Hari pertama masuk sesudah libur lebaran..anak-anak PG menengok tanaman mereka. Ternyata, sawi sudah tumbuh banyak sekali.

Putri melihat lubang-lubang kecil pada daun sawi..’Kak, aku tahu kenapa ini lubang, ada ulatnya!’ ‘Iya seperti, the very hungry caterpillar’, sahut teacher.

Zila dan Rayya agak geram melihat tanaman TKB tidak sesubur yang lainnya.
Zila: ‘Ah aku ngga mau nyiram lagi…abis udah setiap hari disiram tapi ngga tumbuh!’

Rayya : Iya, aku juga ngga mau nyiram!

Tiba waktunya untuk panen. Teacher mengajak anak-anak untuk memanen sawinya, mencucinya, dan memotong-motongnya…siap untuk dimasak sama baso.

‘Ini dia, sudah jadi sayur sawi kita, siapa yang mau?’ ‘Saya….’ Semua anak dengan antusias menyodorkan piringnya, dan segera menyantap sayur + basonya. ‘Sayur yang kita tanam sendiri enak ya!’  

Seputar Kegiatan Saraswati


Di Saraswati kami mencoba untuk membuka wawasan anak seluas mungkin dengan berbagai pengalaman. Maka, untuk berbagai topik yang dibahas di kelas diadakan kunjungan ke tempat-tempat yang relevan. Selama semester ini, sudah 3 tempat yang kami kunjungi bersama, yaitu: Monas dalam rangka hari Kemerdekaan, Kantor Polisi sesuai dengan tema ‘profesi’, dan hanggar pesawat Halim sesuai tema ‘transportasi udara’.

Di Monas, anak-anak mengenakan baju merah putih, menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’, naik kereta, mendengarkan kakak menjelaskan beberapa bagian dari diorama serta naik lift ke puncak Monas, melihat kota Jakarta melalui teropong-teropong yang tersedia, dan berpiknik bersama.

Di Kantor Polisi, anak-anak berinteraksi dengan polwan dan polisi, mereka diperkenalkan pada berbagai rambu lalu lintas dengan aneka warna dan bentuknya, lalu mereka juga keliling naik mobil polisi lengkap dengan suara sirenenya..

Di Hanggar pesawat Halim, anak-anak masuk ke dalam pesawat Fokker yang sering digunakan oleh Presiden dan para pejabat. Mereka juga  melihat dari dekat pesawat Herkules dengan baling-balingnya yang besar, dan menyentuhnya.

Zila bertanya pada petugas: Kenapa pesawatnya keras?
Gian juga ingin tahu apa fungsi pesawat : Ini pesawat apa?
Petugas menjelaskan: pesawat Herkules untuk mengangkut logistik seperti ambulans, dan bisa dibuka dari belakang. Ambulansnya turun dari sini (sambil membuka bagian belakang pesawat)
Daffa sangat terkesan dengan baling-baling pesawat: Wah, hebat! Baling-balingnya ada 4
Abigael : Kak, aku sering naik pesawat..harus pakai seat belt dulu!
Raia : aku suka sayapnya pesawat!
Nabil: Aku suka di dalam pesawat ada dinner dan nonton!
Raynard: Aku ngga seneng pesawatnya nggak ada ACnya!

Pembelajaran apa yang didapatkan oleh anak-anak…tentunya akan berbeda bagi setiap anak sesuai dengan hal yang paling berkesan. Pastinya ada informasi yang terekam dalam memori masing-masing anak, entah itu berkaitan dengan teropong, atau bentuk rambu lalu lintas, ataupun baling-baling dari pesawat Herkules..informasi yang mungkin tidak ia dapatkan jika anak-anak hanya diam di sekolah.

Parents…siap-siap untuk kegiatan berikutnya ya… Parents’ Day dan Outing I
  
Foto album yang lengkap di facebook saraswati preschool…..http://www.facebook.com/#!/profile.php?id=100000680829833

Dampak Lomba pada Anak


Sebagai wujud partisipasi Saraswati pada kegiatan yang diselenggarakan oleh Diknas, Senin lalu anak-anak TK diikutsertakan pada Lomba Menggambar sekecamatan Kebun Jeruk. Keesokan harinya, saat anak-anak TK sedang snack time, teacher membawa kedua piala tersebut ke kelas. Semuanya langsung berlarian dan dengan antusias mengatakan, ‘Aku menang, aku menang’. ‘Iya, benar semuanya menang dapat piala ini…kita simpan di sekolah ya’ teacher katakan pada mereka. Hadiah uang untuk pemenang pun langsung diserahkan ke orangtua masing-masing. 

Memang senang sekali saat diumumkan bahwa 2 anak dari Saraswati terpilih sebagai juara lomba karena nama Saraswati pun terangkat di kalangan Diknas wilayah Kebun Jeruk. Tetapi tidak lepas dari kenyataan bahwa hanya 2 anak yang terpilih sedangkan lainnya tidak mendapatkan piala atau hadiah!

Inilah salah satu hal yang membuat kami enggan mengikutsertakan anak-anak pada lomba-lomba yang diadakan diluar Saraswati. Di satu pihak memang baik untuk mengekspos anak-anak pada suasana kompetitif di dunia luar karena itu yang akan mereka hadapi nantinya. Tetapi jika terlalu sering akan berdampak negatif pada mereka yang tidak terpilih sebagai juara. 

Di Saraswati, kami berpendapat bahwa pada usia PG dan TK, anak-anak masih dalam proses mengembangkan harga dirinya.  Maka untuk lomba-lomba yang diadakan oleh Saraswati, setiap anak mendapatkan hadiah yang sama sehingga tidak ada satu anak pun yang merasa bahwa ia kurang dari temannya!

Berikut kutipan pendapat mommies dari artikel ‘Dampak lomba untuk anak’ website We R Mommies (http://wrm-indonesia.org/content/view/556/58/)

“Kalau di Jepang, sampai usia SD kelas 2 dan 3, tidak diadakan perlombaan yang menunjukkan keunggulan seseorang. Bahkan sampai tingkat TK, tidak ada perlombaan yang juaranya 1,2,3..yang ada hanya kompetisi beregu…pola kerjasama berregu benar-benar ditonjolkan, keunggulan individu tidak terlihat”

“….dibuat lomba dengan kategori yang banyak supaya semuanya dapat hadiah, contohnya: lomba nyanyi terbaik, kostum terbaik, gaya terbaik, senyum terbaik, dsb…”