Hasbi sedang bermain dengan dadu yang digunakan oleh anak-anak untuk floor game. Ia melemparnya terlalu tinggi sehingga tersangkut di plafon.
Hasbi: Kak, lihat dadunya di atas.
Teacher mengambil kesempatan ini untuk melatih problem solving skills anak-anak. Teacher mengajak anak-anak untuk memikirkan solusinya bersama.
Reno : Pakai tangga yang panjang, diambil pakai tangga
Teacher: Kalau tidak ada tangga?
Reno : Ngga bisa!
Dylan : Pakai sarang laba-laba! (spiderman!)
Yoda : Pakai tangga gede, pakai sapu, pinggirin lalu jatuhin! (sangat detail!)
Reihan: Pakai tangga, di rumah lama ada tangga. Kalau ngga ada tangga ngga bisa ambil.
Dinda/Sisi : Pakai kursi yang tinggi, lalu pakai sapu, ambil deh dadunya.
Teacher: Ok, sekarang kita kumpul disini, semuanya berdiri...siapa diantara anak-anak yang paling tinggi akan coba mengambil dadunya.
Anak-anak kemudian sibuk membandingkan tinggi badan masing-masing dan menyimpulkan bahwa Dylan yang paling tinggi diantara mereka (pelajaran matematika yang sangat praktis!)..." Dylan, Kak".
Lalu Dylan mencoba, ternyata tidak cukup tinggi. Raga, Yoda, dan Dinda juga mencoba, tetapi masih tidak bisa diambil.
Teacher: Bagaimana, apakah ada ide lagi?
Anak-anak : Kakak aja yang naik.
Teacher: Ok, tolong pegang kursinya biar kakak naik. Dengan bantuan sapu, akhirnya dadu bisa dijatuhkan.
anak-anak : YES!!!!
Kegiatan seperti ini terlihat sederhana,sehingga seringkali dianggap sepele. Namun, justru kegiatan sehari-hari seperti inilah yang memiliki makna pendidikan yang tidak ternilai. Soft skills anak-anak (dalam hal ini problem solving) terlatih. Manfaatnya mungkin tidak langsung terlihat seperti kemampuan calistung, tapi dalam jangka panjang, soft skill seperti ini akan sangat membantu anak.
Thursday, November 4, 2010
Gunung meletus
Sesuai dengan kejadian aktual, kegiatan sains di kelas kali ini adalah peragaan gunung meletus. Anak-anak ternyata cukup aware tentang kejadian disekitar mereka. Berikut pemikiran dan imajinasi mereka mengenai gunung meletus.
Najwa : Kak, tahu ngga, kenapa mbah Marijan meninggal? Kan dia karena tahan napas
Zilla: Karena kena letusan gunung Merapi, Kak.
Teacher: Gunung yang meletus dimana, ada yang tahu?
Raga : Yogya, Kak...orang-orang tidak bisa napas udara kotor, harus udara bersih.
Najwa : Kak, gunung terbuat dari apa?
Teacher: Gunung berapi itu ada batu-batuan,ada gas-gas panas, ada lava
Najwa : Coba gunung dari eskrim...kalau meletus bisa dimakan
Gia: Coba gunung dari coklat, kalau meletus orang-orang bisa makan coklat
Hasbi : Pernah nonton TV gunung meletus!
Najwa: Kalau gunung meletus, tanahnya goyang
Tiana : Kak, ada hujan meteor!
Najwa : Kak, tahu ngga, kenapa mbah Marijan meninggal? Kan dia karena tahan napas
Zilla: Karena kena letusan gunung Merapi, Kak.
Teacher: Gunung yang meletus dimana, ada yang tahu?
Raga : Yogya, Kak...orang-orang tidak bisa napas udara kotor, harus udara bersih.
Najwa : Kak, gunung terbuat dari apa?
Teacher: Gunung berapi itu ada batu-batuan,ada gas-gas panas, ada lava
Najwa : Coba gunung dari eskrim...kalau meletus bisa dimakan
Gia: Coba gunung dari coklat, kalau meletus orang-orang bisa makan coklat
Hasbi : Pernah nonton TV gunung meletus!
Najwa: Kalau gunung meletus, tanahnya goyang
Tiana : Kak, ada hujan meteor!
Monday, October 25, 2010
Kenapa anak saya tidak mau diatur jika dirumah?
Beberapa orang tua mengeluh..bahwa anak-anak koq dirumah nggak bisa diatur ya? Anak-anak seolah-olah lebih bisa menerima otoritas guru ketimbang otoritas orang tua, untuk mengetahui kenapa demikian, silahkan cermati pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Apakah anda memberikan batasan-batasan pada anak dan secara konsisten
menjalankannya di rumah…simak cerita berikut…
Dua keluarga sedang bermakan-makan di restoran. Keduanya memiliki anak usia prasekolah. Saat anak-anak tersebut mulai naik ke atas pemisah antara 2 meja, keluarga pertama hanya mengatakan ‘jangan, nak..’ beberapa kali tapi tidak ada tindakan. Dalam hal ini pesan yang didapatkan oleh si anak adalah ‘aku ngga boleh naik tapi jika aku melakukannya, tidak apa-apa juga’.
Di lain pihak, keluarga kedua, selain mengatakan ‘tidak boleh naik karena mengganggu orang lain’ juga mengangkat anak tersebut untuk kembali duduk di kursinya (tidak dengan marah). Dan hal ini berulang beberapa kali. Untuk menarik perhatian anak, mereka melibatkan si anak dalam percakapan mereka. Pesan yang didapatkan oleh anak adalah’ aku memang tidak boleh naik karena mengganggu orang lain’.
kedua pesan tersebut akan tertanam dalam diri si anak, dan kita bisa memprediksi anak yang mana yang akan berperilaku secara disiplin dalam situasi yang lain. Pesan mungkin saja tidak langsung tertanam, harus beberapa kali sehingga memang diperlukan konsistensi dari orang tua.
2.Apakah arti otoritas bagi anda? ‘being in control’ ataukah ‘being in charge’?
‘Being in control’ berarti mengharapkan agar si anak mengikuti perintah anda apa adanya
‘Being in charge’ berarti mengendalikan situasi demikian sehingga si anak terbantu untuk mengendalikan dirinya
Simak kejadian aktual berikut :
Seorang anak merusak bangunan dari balok yang dibuat oleh beberapa temannya. Teman-temannya berteriak. Guru intervensi, dan memisahkan si anak dari teman-temannya. Guru mengajaknya bicara.
Guru: Ada apa.. kenapa sampai merusak bangunan temanmu?
Anak: Aku mau aja!
Guru:Kalau temanmu merusak bangunanmu, gimana perasaan kamu?
Anak: Tapi kan si A ngga mau main sama aku
Guru: Kadang-kadang kalau teman kita lagi nggak mau main sama kita, itu hak dia. Kita nggak bisa memaksa. Emang kamu suka dipaksa kalau lagi ngga mau main?
Anak: Aku kan ngga pernah punya teman dari dulu. Kakak kan ngga pernah tahu si A ngga pernah mau main sama aku dari PG.
Guru: O..gitu (ternyata si anak sudah menyimpan perasaan negatif - bahwa tidak ada yang suka bermain bersama dirinya - sudah cukup lama).
Teacher berpikir bahwa si anak perlu tahu bahwa tidak hanya dia yang memiliki perasaan seperti itu, bahwa perasaan seperti itu wajar, tetapi yang perlu diketahui juga oleh si anak adalah bahwa yang bisa merubah situasinya adalah dirinya sendiri. So teacher membagikan pengalamannya..
Teacher : Aku pernah juga lho pengen sekali berteman sama seseorang terus orang itu ngga mau…sedih juga sih, tapi ya sudah aku cari saja teman yang lain untuk bermain.
Anak diam mendengarkan dan mencerna apa yang dikatakan oleh teacher (dengan ekspresi yang masih sedih)
Teacher: Kalo aku lihat sih, teman-temanmu masih mau koq bermain sama kamu..
Teacher memanggil teman-teman untuk mengajak si anak bermain outdoors….dan mereka pun menghampiri dan dengan senang hati mengajak si anak untuk bermain bersama. Tidak lama kemudian si anak terlihat ceria kembali .
Dengan tidak memberikan perintah pada anak, tetapi memanggil dan berbicara dengannya, teacher tidak mengendalikan si anak, tetapi mengendalikan situasinya dan terlihat bahwa si anak terbantu untuk mengendalikan emosinya.
Pertanyaannya adalah apakah anda cukup sabar untuk melakukan hal ini secara konsisten di rumah.
Untuk tips lebih lanjut silahkan baca www.babyart.ort/school-age/tips-on-disciplene.html
1. Apakah anda memberikan batasan-batasan pada anak dan secara konsisten
menjalankannya di rumah…simak cerita berikut…
Dua keluarga sedang bermakan-makan di restoran. Keduanya memiliki anak usia prasekolah. Saat anak-anak tersebut mulai naik ke atas pemisah antara 2 meja, keluarga pertama hanya mengatakan ‘jangan, nak..’ beberapa kali tapi tidak ada tindakan. Dalam hal ini pesan yang didapatkan oleh si anak adalah ‘aku ngga boleh naik tapi jika aku melakukannya, tidak apa-apa juga’.
Di lain pihak, keluarga kedua, selain mengatakan ‘tidak boleh naik karena mengganggu orang lain’ juga mengangkat anak tersebut untuk kembali duduk di kursinya (tidak dengan marah). Dan hal ini berulang beberapa kali. Untuk menarik perhatian anak, mereka melibatkan si anak dalam percakapan mereka. Pesan yang didapatkan oleh anak adalah’ aku memang tidak boleh naik karena mengganggu orang lain’.
kedua pesan tersebut akan tertanam dalam diri si anak, dan kita bisa memprediksi anak yang mana yang akan berperilaku secara disiplin dalam situasi yang lain. Pesan mungkin saja tidak langsung tertanam, harus beberapa kali sehingga memang diperlukan konsistensi dari orang tua.
2.Apakah arti otoritas bagi anda? ‘being in control’ ataukah ‘being in charge’?
‘Being in control’ berarti mengharapkan agar si anak mengikuti perintah anda apa adanya
‘Being in charge’ berarti mengendalikan situasi demikian sehingga si anak terbantu untuk mengendalikan dirinya
Simak kejadian aktual berikut :
Seorang anak merusak bangunan dari balok yang dibuat oleh beberapa temannya. Teman-temannya berteriak. Guru intervensi, dan memisahkan si anak dari teman-temannya. Guru mengajaknya bicara.
Guru: Ada apa.. kenapa sampai merusak bangunan temanmu?
Anak: Aku mau aja!
Guru:Kalau temanmu merusak bangunanmu, gimana perasaan kamu?
Anak: Tapi kan si A ngga mau main sama aku
Guru: Kadang-kadang kalau teman kita lagi nggak mau main sama kita, itu hak dia. Kita nggak bisa memaksa. Emang kamu suka dipaksa kalau lagi ngga mau main?
Anak: Aku kan ngga pernah punya teman dari dulu. Kakak kan ngga pernah tahu si A ngga pernah mau main sama aku dari PG.
Guru: O..gitu (ternyata si anak sudah menyimpan perasaan negatif - bahwa tidak ada yang suka bermain bersama dirinya - sudah cukup lama).
Teacher berpikir bahwa si anak perlu tahu bahwa tidak hanya dia yang memiliki perasaan seperti itu, bahwa perasaan seperti itu wajar, tetapi yang perlu diketahui juga oleh si anak adalah bahwa yang bisa merubah situasinya adalah dirinya sendiri. So teacher membagikan pengalamannya..
Teacher : Aku pernah juga lho pengen sekali berteman sama seseorang terus orang itu ngga mau…sedih juga sih, tapi ya sudah aku cari saja teman yang lain untuk bermain.
Anak diam mendengarkan dan mencerna apa yang dikatakan oleh teacher (dengan ekspresi yang masih sedih)
Teacher: Kalo aku lihat sih, teman-temanmu masih mau koq bermain sama kamu..
Teacher memanggil teman-teman untuk mengajak si anak bermain outdoors….dan mereka pun menghampiri dan dengan senang hati mengajak si anak untuk bermain bersama. Tidak lama kemudian si anak terlihat ceria kembali .
Dengan tidak memberikan perintah pada anak, tetapi memanggil dan berbicara dengannya, teacher tidak mengendalikan si anak, tetapi mengendalikan situasinya dan terlihat bahwa si anak terbantu untuk mengendalikan emosinya.
Pertanyaannya adalah apakah anda cukup sabar untuk melakukan hal ini secara konsisten di rumah.
Untuk tips lebih lanjut silahkan baca www.babyart.ort/school-age/tips-on-disciplene.html
Wednesday, October 6, 2010
Saraswati Preschool: Daydreaming (alias bengong)
http://www.psychologytoday.com/blog/the-power-daydreaming/200910/how-daydreaming-helps-children-process-information-and-explore-ide
Daydreaming (alias bengong)
Saat teacher sedang menjelaskan sesuatu, beberapa anak terlihat ‘bengong’…
Teacher: Coba semuanya dengarkan dulu…kalo mau bengong, nanti selesai penjelasan ini, kakak beri waktu untuk bengong sejenak.
Selesai penjelasan, teacher menepati janjinya, ‘Ok, sekarang diberi waktu 5 menit untuk daydreaming’
Anak-anak: Kak, 3 menit aja!
Teacher : Boleh, 3 menit, tapi kalau daydreaming itu tidak ribut, tidak bersuara!
Anak-anak semua diam. Reno, Yoda dan Putra mulai tiduran. Teacher mengingatkan, ‘tidak ketiduran…coba kita menghayal dan selesai 3 menit, yang mau cerita boleh!
Anak-anak memperhatikan sand clock…beberapa terlihat tidak sabar...ternyata 3 menit lama juga ya!
Selesai 3 menit…
Yodha: Kak, aku menghayal pesawat ada turbo chargernya
Najwa: aku pura-pura ke angkasa, ambil bintang. Aku bawa turun dan disimpan. Kalau aku mau berharap baru diambil.
Teacher: Harapan Najwa saat ini apa?
Najwa: Aku ingin kue
Anak-anak yang lain: Kak, ngga menghayal apa-apa!
Ternyata bengong atau daydreaming kalau disengaja tidak mudah ya! Mungkinkah pertanda kita terlalu banyak melatih otak kiri anak?!
(c more @ www.saraswatipreschool.blogspot.com)
Teacher: Coba semuanya dengarkan dulu…kalo mau bengong, nanti selesai penjelasan ini, kakak beri waktu untuk bengong sejenak.
Selesai penjelasan, teacher menepati janjinya, ‘Ok, sekarang diberi waktu 5 menit untuk daydreaming’
Anak-anak: Kak, 3 menit aja!
Teacher : Boleh, 3 menit, tapi kalau daydreaming itu tidak ribut, tidak bersuara!
Anak-anak semua diam. Reno, Yoda dan Putra mulai tiduran. Teacher mengingatkan, ‘tidak ketiduran…coba kita menghayal dan selesai 3 menit, yang mau cerita boleh!
Anak-anak memperhatikan sand clock…beberapa terlihat tidak sabar...ternyata 3 menit lama juga ya!
Selesai 3 menit…
Yodha: Kak, aku menghayal pesawat ada turbo chargernya
Najwa: aku pura-pura ke angkasa, ambil bintang. Aku bawa turun dan disimpan. Kalau aku mau berharap baru diambil.
Teacher: Harapan Najwa saat ini apa?
Najwa: Aku ingin kue
Anak-anak yang lain: Kak, ngga menghayal apa-apa!
Ternyata bengong atau daydreaming kalau disengaja tidak mudah ya! Mungkinkah pertanda kita terlalu banyak melatih otak kiri anak?!
(c more @ www.saraswatipreschool.blogspot.com)
Coraline - kenapa aku nggak boleh nonton?
When a 4 year old gives all logical explanations to watch a movie we don’t think is appropriate for her…..
Fay: Kak, kenapa sih aku nggak boleh nonton ‘Coraline’?
Teacher: O..Coraline. iya sebaiknya Fay tidak nonton film itu karena banyak kekerasan terhadap anak kecil. Kekerasan seperti anak yang dikunci di dalam ruangan.
Fay: Tapi, kan itu cuma film
Teacher: Iya, tapi kalau film itu membuat kita merasa tidak nyaman, untuk apa kita tonton?
Fay: Kak, aku nggak takut koq nonton film Coraline!
Teacher berpikir apa lagi yang bisa dikatakan untuk convince Fay…
Teacher: Kalo ada film yang lebih baik, kenapa nggak Fay nonton film yang itu saja?
Popo (mendengar conversation antara Fay dan teacher) : Iya, Fay..nonton ‘Tom and Jerry’ aja!
Teacher: Wah…Tom and Jerry juga banyak kekerasan ya ..mereka saling memukul!
Fay: Film ikan duyung! (sambil memperagakan gerakan ikan duyung dengan kedua kakinya).
Popo: Ikan duyung kan nggak ada kakinya, tapi ada sirip!
….. mungkin ada baiknya kita research dulu ide dasar dari film, pesan yang ingin disampaikan ….adakah sesuatu yang positif dan sesuai dengan nilai-nilai kita? Jika ya, baru kita membuat judgement apakah si kecil cukup matang untuk memproses pesan-pesan tsb..yang pasti si kecil harus ditemani saat menonton film-film seperti ini. Tapi jika kita sendiri merasa tidak comfort, ya alihkan saja perhatiannya ke film lain.
(C more @saraswatipreschool.blogspot.com)
Fay: Kak, kenapa sih aku nggak boleh nonton ‘Coraline’?
Teacher: O..Coraline. iya sebaiknya Fay tidak nonton film itu karena banyak kekerasan terhadap anak kecil. Kekerasan seperti anak yang dikunci di dalam ruangan.
Fay: Tapi, kan itu cuma film
Teacher: Iya, tapi kalau film itu membuat kita merasa tidak nyaman, untuk apa kita tonton?
Fay: Kak, aku nggak takut koq nonton film Coraline!
Teacher berpikir apa lagi yang bisa dikatakan untuk convince Fay…
Teacher: Kalo ada film yang lebih baik, kenapa nggak Fay nonton film yang itu saja?
Popo (mendengar conversation antara Fay dan teacher) : Iya, Fay..nonton ‘Tom and Jerry’ aja!
Teacher: Wah…Tom and Jerry juga banyak kekerasan ya ..mereka saling memukul!
Fay: Film ikan duyung! (sambil memperagakan gerakan ikan duyung dengan kedua kakinya).
Popo: Ikan duyung kan nggak ada kakinya, tapi ada sirip!
….. mungkin ada baiknya kita research dulu ide dasar dari film, pesan yang ingin disampaikan ….adakah sesuatu yang positif dan sesuai dengan nilai-nilai kita? Jika ya, baru kita membuat judgement apakah si kecil cukup matang untuk memproses pesan-pesan tsb..yang pasti si kecil harus ditemani saat menonton film-film seperti ini. Tapi jika kita sendiri merasa tidak comfort, ya alihkan saja perhatiannya ke film lain.
(C more @saraswatipreschool.blogspot.com)
Friday, September 24, 2010
Delightful Challenge
That sure was a looong holiday!…Happy Idul Fitri to those celebrating and mohon maaf lahir batin… Mohon maaf also for the long break from updating our blog..By the way, school has started and the children are back. We have a new friend in TK, and lots of stories about how the children spent their holidays. This week’s delightful challenge is putting the children (15 active four and five year olds) in 2 groups for a competitive game of ‘answer the questions’ based on a story read earlier. After a very long holiday, that was definitely a challenge!
“Ok, let’s divide the class into 2 groups and name your group. Let’s see…Ghia, Yodha, Tiana…..in group 1; Raga, Mirza, Hasbi, Najwa….in group 2”
Chaos ensued.
“ aku sama Ghia”; “Aku sama Yodha”; “ Aku sama Raga” the children shouted excitedly, each one hanging on to their closest friend. “Hmmm…wasn’t going to be easy.”
“ Alright then, all girls in group 1 and all boys in Group 2” It took a while for the girls and boys to gather in 2 groups.
“Ok, girls, decide on a name for your group. Boys, decide on a name for your group”
Another chaos ensued as the children again broke up into pairs and chose a name for themselves.
“ aku sama Najwa dolphin; aku dinosaur; aku snake; kalau kadal apa bahasa Inggrisnya?;” and on it went.
After some explaining that each group should have only one name representing the whole group and agreed to by everyone, the girls immediately bundled up together and quickly decided on the name ‘dolphin’; In the meantime the boys were still struggling.
“Boys, you have 5 or 6 names here, let’s vote – the name with more votes will be your group name” Whew! that worked and the boys finally had a group name.
Then it was on to the next challenge - getting 15 children not to shout out the answers at the top of their voices all at the same time, er sometimes a little bit too close to the ears..but to follow the rules of the game. Indeed, we are definitely back and having fun again!
“Ok, let’s divide the class into 2 groups and name your group. Let’s see…Ghia, Yodha, Tiana…..in group 1; Raga, Mirza, Hasbi, Najwa….in group 2”
Chaos ensued.
“ aku sama Ghia”; “Aku sama Yodha”; “ Aku sama Raga” the children shouted excitedly, each one hanging on to their closest friend. “Hmmm…wasn’t going to be easy.”
“ Alright then, all girls in group 1 and all boys in Group 2” It took a while for the girls and boys to gather in 2 groups.
“Ok, girls, decide on a name for your group. Boys, decide on a name for your group”
Another chaos ensued as the children again broke up into pairs and chose a name for themselves.
“ aku sama Najwa dolphin; aku dinosaur; aku snake; kalau kadal apa bahasa Inggrisnya?;” and on it went.
After some explaining that each group should have only one name representing the whole group and agreed to by everyone, the girls immediately bundled up together and quickly decided on the name ‘dolphin’; In the meantime the boys were still struggling.
“Boys, you have 5 or 6 names here, let’s vote – the name with more votes will be your group name” Whew! that worked and the boys finally had a group name.
Then it was on to the next challenge - getting 15 children not to shout out the answers at the top of their voices all at the same time, er sometimes a little bit too close to the ears..but to follow the rules of the game. Indeed, we are definitely back and having fun again!
Subscribe to:
Posts (Atom)