
Thursday, December 4, 2008
COME AND JOIN US..for Mother's day

Wednesday, December 3, 2008
Outing ke Bukit Baros


‘



Sambil berjalan melalui hutan, banyak hewan kecil yang ditemukan anak-anak. ‘Kak, itu ada kumbang’.


Setelah menjelajahi hutan kecil, rombongan sampai di kebun teh. Acara selanjutnya adalah memetik daun teh.

‘Yang dipetik adalah daun muda yang berada di pucuk pohon
teh..Ayo, coba anak-anak petik daun tehnya’, ajak pemandu.Anak-anak bergegas mencari daun teh, ‘Ini, aku dapet’, lapor salah satu anak ke pemandu. ‘Iya, itu benar’, jawab pemandu. Seusai memetik daun teh, anak-anak menikmati minuman teh.
Wah, berpetualang di pabrik keju, kandang sapi, dan kebun teh membuat anak-anak cukup lapar! ‘Hmmm… nasi putih, ayam goreng dan sup lezat sudah menunggu!’ Masih ada lagi lho, yang mau mencicipi pizza pakai keju buatan sendiri, bisa langsung mengambilnya di pos pizza.


Hari Seninya, anak-anak diberikan kesempatan untuk mengekspresikan apa yang mengesankan di Bukit Baros. Vira bercerita mengenai karyanya,’Di Bukit Baros, ada gunung; ini tempat teduh, terus ini kandang sapi.’ Olla menunjukkan karyanya pada teacher, sambil bercerita , ’Ini Olla lagi kasih makan sapi.’
Wednesday, November 19, 2008
Yoga with children and parents
Discussion time - Ibu Lisa (mama Popo) mengajak anak-anak mengenal jenis-jenis makanan yang sehat. Semua anak berpartisipasi dengan antusias. Seusai pembahasan mengenai makanan sehat, tibalah saatnya untuk berlatih yoga tapi sebelumnya sedikit kata sambutan dari ibu komite.
Transisi ke kegiatan yoga dimulai dengan duduk bersila, memejamkan mata dan menghentikan semua gerakan dan bicara. ’Relax and try to listen to each and every sound outside.’
‘Ngga, ga ada suara apa-apa, tuh!’, Popo nyeletuk, sementara anak-anak lainnya dan parents menikmati kesunyian di ruangan. ‘Ok, slowly open your eyes. Kita mulai dengan latihan kecil untuk melemaskan otot, dimulai dari jari-jari. Let’s start with Thumbkin..move thumbkin up and down, then pointer, tall man, ring man and little man…demikian latihan berlanjut..
Selesai melemaskan otot-otot, anak-anak dan parents mencoba melakukan berbagai pose yoga – the tree pose, the cat-cow pose (meow – moo), the snake pose (ssssss Sammy Snake), forward and backward bending, the butterfly pose.
‘Bu shoba, Gede mau frog’….’Alright, let’s do the frog pose together.’
Tuesday, November 4, 2008
Menegur ketidaktepatan anak melalui cerita/drama
Bermain dengan api :
‘Nanda luka tangannya saat bermain api di rumah bersama dengan sepupunya.’ lapor bunda Nanda ke teacher. Menurut Bunda, ia sudah melarangnya. Apa boleh dikata, curiosity anak pada usia dini memang sedang berkembang dengan gencar.
Saat circle time, setelah menyanyikan beberapa nursery rhymes, Kak Tri mengatakan bahwa ia punya mainan baru sambil menyembunyikan tangannya.
‘Apa, kak; apa, kak?’ ‘boneka ya, kak?’ tanya anak-anak.
‘Bukan, kalo itu ngga seru, yang ini mainannya seru sekali’, Kak Tri menjawab. Anak-anak sudah tidak sabar dan sangat mengharapkan bahwa Kak Tri memperlihatkan mainannya yang baru dan seru itu. Akhirnya, Kak Tri menunjukkan mainannya.
‘Ini dia, mainannya!’ Kak Tri memperlihatkan korek api sambil menyalakan/mematikan apinya. Wajah anak-anak terlihat bingung.
‘Kak, itu kan korek api, kak.’
Alil berkata,’Kak, itu kan buat nyalain rokok ayah..bukan mainan!’
Seorang anak lainnya nyeletuk,’awas kena lho, kak’. Pada saat inilah Nanda tertegur..’iya kak, seperti aku kena nih di tanganku.’
Kak Tri (sambil menyalakan apinya, dengan tiba-tiba) : ‘OUW…..tanganku kena apinya.’
'Makanya, Kak, jangan main api', seru seorang anak.
Visit to the doctor's clinic
’Untuk satu ini, semuanya harus memakai masker, ya!’, Zr.Lina mengingatkan. Popo duduk dan merenung. Mama Popo mencoba membujuk, sambil Popo menggeleng-gelengkan kepala. ’Popo hanya punya 2 pilihan – Popo tidak pakai masker dan tetap tunggu disini, atau, Popo pakai masker dan ikut yang lain masuk ke ruang adik bayi. Popo mau yang mana?’, saya tegaskan. ’Ga
Anak-anak secara bergilir masuk ke ruang dokter. Adik-adik Playgroup masuk ke ruang dokter dengan penuh ragu-ragu. ’Dokter ngga apa-apa, ngga usah takut’, dokter mencoba membujuk. Dokter lalu menjelaskan guna dan cara memakai stethoscope. ’Ini namanya stethoscope, untuk periksa organ di dalam dada, seperti jantung, paru-paru.’ ’Aku mau coba’, Gede berseru dengan antusias. Kemudian Zr. Lina memperlihatkan bagaimana mengukur tensi..’Ayo, kita ukur tensi gurunya aja, ya.’ Anak-anak lalu berkerumun memperhatikan Kak Helen ditensi oleh Zr. Lina. Wah, tensinya normal 120/70.
Monday, October 27, 2008
Let's mail a letter!
buat post office box bersama dengan anak di rumah. Saat masuk sekolah, selama 1 minggu pertama, anak-anak dengan bangga membawa hasil karyanya. Dramatic play area kemudian di set up untuk menjadi kantor pos oleh teachers. Wah, apa saja ya benda-benda yang dapat ditemukan di kantor pos? Ada perangko, ada uang, ada lem, amplop, pen. Ada timbangan juga lho, dan alat stamping.


Berikut salah satu skenario dramatic play di Saraswa
ti Post Office:Nanda memilih menjadi pegawai kantor pos yang menerima dan menimbang surat dan paket.
Popo memilih menjadi penjual benda-benda pos seperti perangko, amplop dll. Ia juga memegang alat stamping.
Teman-teman yang lain sibuk ‘menulis surat’ buat teman masing-masing. Keisya ingin menulis surat buat Achie, Fendi buat Gede, Olla buat Vira, dan Dinda buat Kak Helen. Feli ingin mengirim paket Dino.

Gede : ‘Bungkus dulu, Feli.’
Feli : ’Mana kertasnya?’ Teacher menunjukkan pada Feli kertas yang dapat dipakai untuk membungkus, dan Feli langsung membungkusnya. Setelah selesai, ia datang ke Nanda.
Nanda menimbang paket dino, dan berkata, ‘1 kilo harganya Rp.5.000. Beli dulu perangkonya di Popo.’
Feli ke Popo : ‘Aku mau perangko.’
Popo memberikan perangko dan bertanya: ’Uangnya mana?’
Feli : ’Ngga ada.’
Popo : ’ngga boleh.’ Ia mengambil kembali pake
Feli mengambil potongan kertas yang sudah disediakan dan menulis, ’5000’. Ia lalu bergegas kembali ke Nanda. Tetapi Nanda sudah ingin istirahat.Nanda : ’Aku mau pergi.’
Popo mengambil alih tugas Nanda. Ia terima paket Feli dan melakukan stamping..buk, buk, buk...siap deh untuk dikirim!
Tuesday, October 21, 2008
Prinsip Pendidikan Waldorf
Beberapa konsep Waldorf sama dengan yang sudah kita terapkan di Saraswati, seperti:
- fokus pendidikan pada ’the whole child’, bukan hanya akademis saja tetapi juga membekali anak dengan life skills seperti problem solving, initiative, empathy, critical thinking, dll.
- tidak memaksakan sesuatu pada anak, artinya, mengajar dengan sistem yang fleksibel melalui gerakan, games, story telling dan cara-cara yang kongkrit. Misalnya, belajar tambah kurang dengan benda-benda praktis.
- Tidak ada hukuman bagi si anak. Jika anak berbuat sesuatu yang kurang tepat, tidak langsung ditegur. Seringkali di kelas, saat group activity time, ada saja anak-anak yang tidak memperhatikan dan justru mengganggu konsentrasi teman-temannya dengan kesibukannya sendiri. Dalam hal ini, lazimnya, kita akan menegur si anak dan memintanya untuk menghentikan kesibukannya dan ikut berpartisipasi dalam group activity. Tidak demikian di sekolah Waldorf. Si guru di sekolah Waldorf akan membuat sebuah cerita yang kiranya dapat menyampaikan pesan mengenai perbuatan yang kurang tepat tersebut. Secara tidak langsung, anak akan tertegur. Teguran secara tidak langsung seperti ini tidak akan menyakiti perasaan anak tetapi cukup efektif agar si anak sadar bahwa perbuatannya kurang tepat. Di Saraswati kami sering melakukan hal yang sama, seperti saat seorang anak membawa pulang mainan dari sekolah tanpa memberitahu guru..guru tidak langsung menegurnya tetapi saat circle time keesokan harinya, story telling yang dibuat oleh guru temanya disesuaikan, agar si anak tertegur secara halus.
- Ritme atau skedul kegiatan tidak bersifat kaku – pukul 10 harus makan, pukul 10.30 harus main matematika. Sebagaimana di Saraswati, komentar dan interest anak-anak menjadi masukan bagi guru untuk membuat adjustment pada skedul ataupun tema yang sudah direncanakan.
Ciri khas dari Waldorf School – Siapkah orang tua?
- Suasana di Waldorf School bersifat sangat ’open-ended’, artinya anak-anak benar-benar dibiarkan untuk melatih imajinasi dan kreatifitasnya melalui alat-alat yang tidak berbentuk. Jadi di Sekolah Waldorf, di kelas tidak akan ditemukan sebuah telpon riil. Telpon dibuat sendiri oleh anak-anak dan bisa berwujud kaleng bekas dengan seutas tali. Adanya benda yang bentuknya terdefinisi dengan jelas dihindari. Bahkan saat menggambar atau melukis sekalipun, guru tidak pernah memberikan garis pembatas.
- Keterikatan anak dengan alam juga dilatih, artinya anak-anak banyak bermain di alam.
- Tidak ada latihan menulis atau berhitung yang dipaksakan pada anak.
Saat berkunjung ke Saraswati, Pak Hans dan ibu Ineke Mulder sangat kagum dan senang sekali dengan suasana di Saraswati. Menurut mereka, anak-anak sangat happy di Saraswati. Ibu Ineke sempat bercerita pada anak-anak mengenai mengapa kerbau membantu orang membajak sawah. Ceritanya cukup menarik dan seperti biasanya, anak-anak kita tidak segan melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang kritis.
Feli berkomentar: “Kan binatang tidak bisa ngomong?!“ (dalam cerita kerbau berbicara dengan manusia)
Ineke: “Yes, but this is a special buffalo“
Popo/Nanda : “Kenapa spesial?”
Ineke : “ Because it’s the messenger to the people”………
Setelah bercerita dan bernyanyi bersama, Pak Hans dan Ibu Ineke ikut makan pagi dan kemudian foto bersama.