Friday, September 5, 2008

Internation Conference on Early Childhood and Elementary Education


Pada tanggal 19 & 20 Agustus yang lalu, saya mengikuti International Conference on Early Childhood and Elementary Education. Konferensi yang diadakan selama 2 hari di Gedung Dikti Senayan bertemakan ‘Engaging children’s minds and hearts’, dan dibawakan oleh seorang professor dari Amerika Serikat Lilian Katz dan seorang trainer dalam early childhood dari Singapore, Puspa Sivan. Keduanya sangat mengesankan! Indonesia adalah negara ke-50 yang didatangi oleh Lilian Katz untuk membagikan pengalaman dan hasil risetnya mengenai bagaimana anak-anak usia dini berkembang, dan metode pendidikan yang tepat untuk perkembagan optimal anak – kesempatan emas yang tidak saya sia-siakan! Dari awal berdirinya Saraswati sekitar 10 tahun yang lalu, buku-buku dan metode yang dikenalkan oleh Lilian, menjadi referensi bagi saya dalam mengembangkan program di Saraswati. Saya bagikan beberapa poin yang sangat interesting, yang bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua, dalam beberapa posting berikutnya.

Friday, August 22, 2008

Pembentukan karakter anak.

Minggu lalu, di kelas, seorang anak memukul temannya dengan sedotan. Si anak memang tidak bermaksud untuk menyakiti temannya, ia hanya ingin mengekspresikan kesenangannya, namun caranya kurang tepat dan ia telah membuat temannya menangis. Kak Herly menjelaskan padanya bahwa memukul seperti itu menyakiti teman - sebagaimana kita sendiri tidak mau disakiti, kita juga tidak boleh menyakiti teman. Lalu Kak Herly mengajak si anak untuk meminta maaf pada temannya yang kena pukul tadi. Namun si anak menolak..bahkan sampai pada waktu pulang, ia bersikeras menolak untuk minta maaf pada temannya.

Kebetulan pada hari tersebut, teacher membawa stiker dan ingin membagikannya pada anak-anak sebagai tanda terima kasih bahwa mereka sudah bisa untuk mengikuti peraturan di kelas. Si anak yang memukul temannya, dengan antusias menunggu stikernya, tetapi kali ini ia tidak mendapatkan stiker karena ia masih juga tidak mau untuk meminta maaf pada temannya.

Pada saat-saat seperti inilah terjadi pergumulan yang hebat dalam hati teacher, antara ’nggak tega’ tetapi harus tetap menjalankan peraturan agar anak ’belajar’. Kak Herly memeluknya dan menjelaskan padanya kenapa ia tidak bisa mendapatkan stiker, dan menekankan bahwa teacher tetap sayang padanya.

Keesokan harinya, saat sampai di sekolah, si anak langsung datang ke Kak Herly dan mengatakan, ..’Kak, aku mau minta maaf......’ Wow...apa yang terjadi, si anak tahu-tahu berubah haluan? Ternyata si anak menceritakan seluruh kejadian di sekolah pada neneknya di rumah. Nenek pun mendukung teacher dan menjelaskan kembali pada si anak bahwa ia harus meminta maaf dan tidak memukul temannya lagi.

Sebagai teacher memang kita harus selalu memainkan ‘balancing act’, sejauh apa kita masih bisa bersikap permisif terhadap anak, dan kapan kita harus men-tega-kan diri, demi pembentukan karakter positif pada anak-anak. Apa yang dilakukan oleh teacher tentunya hanya akan berhasil jika didukung oleh orang tua di rumah. Karenanya Saraswati selalu membuka kesempatan bagi orang tua untuk berkomunikasi dengan tim Saraswati. SDC.

WOODWORKING... dengan pak Kasron


Untuk memperkaya kegiatan di kelas, sekali-kali kami adakan kegiatan ‘woodworking’. Kegiatan ini memberikan anak-anak kesempatan untuk ber-eksplorasi dengan media kayu, dari mengamplas, memaku dan menempel berbagai ukuran balok kayu menjadi suatu kreasi yang menarik. Pada hari Rabu, tgl 13 Agustus, outdoor area sudah diset-up untuk kegiatan woodworking… berbagai alat yang digunakan untuk woodworking sudah didisplay, seperti palu kecil, gergaji kecil, kertas amplas, serta balok kayu dengan berbagai bentuk dan ukuran.

Setelah perkenalan, Pak Kasron mulai menjelaskan guna dari berbagai alat yang didisplay dan bagaimana alat tersebut digunakan.


Lalu anak-anak dibagi dalam kelompok kecil, ada yang mencoba memaku pakai palu, ada yang mencoba mengamplas, dan ada yang langsung menempelkan balok-balok, tentunya dengan supervisi ketat dari teachers. Akhir proses adalah pengecatan…anak-anak pun mengambil kuas masing-masing dan mengecat hasil karyanya. Lihatlah karyanya bagus-bagus!


Lebih penting dari hasil karya tersebut adalah aspek perkembangan yang terlatih melalui proses kegiatan tersebut!
Dari segi emosional, percaya diri anak semakin berkembang, karena ia boleh dan bisa untuk melakukan sesuatu yang di rumah hanya boleh disentuh oleh orang dewasa.
Dari segi fisik, kegiatan ini membantu mengembangkan otot-otot halus pada tangan dan koordinasi mata dengan tangan, dua skills yang sangat diperlukan untuk bisa menulis dengan baik.
Dari segi kognitif, tentunya perbendaharaan katanya semakin bertambah, mereka juga mengetahui guna dari berbagai alat; kreatifitas anak ikut berkembang, math skill juga terlatih – contohnya, saat mereka mencoba mencocokkan ukuran paku dengan ukuran balok- paku tidak boleh terlalu panjang, dan masih banyak lagi. SDC

Wednesday, August 6, 2008

Drama menjadi aktifitas yang menyenangkan bagi anak-anak

Drama atau play acting merupakan suatu hal yang dilakukan secara alami oleh anak-anak. Pasti kita semua sudah pernah memperhatikan saat anak-anak berpura-pura memainkan berbagai peran seperti peran dokter, peran ayah atau bunda, peran kasir di toko dan lain-lain. Menurut para ahli, banyak sekali yang dilatih saat anak memainkan berbagai peran tersebut, diantaranya:

  • Thinking skills…peran yang dimainkan oleh anak merupakan refleksi dari apa yang pernah dilihatnya, baik itu dari buku cerita, dari layar televisi ataupun yang ia lihat sendiri secara aktual. Skenario kreatif yang muncul dalam permainannya menunjukkan kemampuan anak untuk memilah dan menggabungkan berbagai pengalaman dan apa yang pernah dilihatnya tersebut, secara logis.

  • Secara social-emosional, melalui dramatic play, anak berkesempatan untuk mengatasi ketakutan yang ada dalam dirinya. Seringkali anak-anak takut dan trauma jika harus ke dokter. Saat anak berpura-pura menjadi seorang dokter, lalu menyuntik boneka sambil membujuk boneka untuk tidak menangis karena suntikannya hanya ’sedikit sakit’, sebenarnya ia sedang memproses ketakutannya sendiri.

  • Interaksi sosial...dramatic play memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk bekerja sama dalam menyusun skenario – misalnya, siapa yang menjadi dokter, siapa pasiennya, siapa ibunda, dan siapa ayah. Anak-anak juga belajar untuk menyelesaikan masalah, misalnya, jika ada yang tidak setuju dengan perannya, anak-anak dengan sendirinya bergantian memainkan peran favorit.

    Di sekolah, kami menyiapkan areal dramatic play…yang kami set-up sesuai dengan keinginan anak-anak. Pada bulan Agustus ini, areal dramatic play memberikan anak-anak keleluasaan untuk bereksplorasi dengan suasana di klinik dokter, dan suasana di salon.

    Bagaimana dengan drama yang skenarionya sudah tersusun…umumnya, kami agak berhati-hati untuk melibatkan anak-anak dalam sesuatu yang terlalu diatur oleh orang dewasa. Namun, sejak graduation tahun ajaran 2007-2008 yang baru lalu, anak-anak senang sekali jika diikutsertakan dalam aktifitas drama tersebut. Sepertinya, skenario drama Hensel and Gretel dan gerakan lagu yang disiapkan oleh tim Saraswati dan dipimpin oleh Kak Tri/Kak Helen benar-benar berkesan pada anak-anak.

    Pada hari Minggu, tgl. 3 Agustus yang baru lalu, Saraswati kembali menampilkan drama Hensel and Gretel, serta gerak tari dan berbagai lagu di Mal Puri. Ternyata anak-anak terlihat sangat percaya diri dan natural. Herrel dan Vaza yang sudah duduk di SD kelas 1 ikut bergabung kembali untuk memainkan perannya masing-masing. Demikian juga Felice, yang sudah tidak di Saraswati lagi, mendapatkan kesempatan untuk menjadi angel, bersama teman-temannya. Terimakasih juga dukungan dari Arief (alumni Saraswati sekarang sudah kelas 2 SD) dan orang tuanya. Terima kasih Kakak Wisam, Kakak Alun, dan Kakak Devan yang sudah mendukung adik-adiknya.

    Drama dan Gerak Tari sekarang menjadi aktifitas eskul di Saraswati, dan diadakan 1x dalam seminggu.

Thursday, July 31, 2008

Di sekolah patuh, di rumah???



Pada parents’ meeting hari Sabtu, 26 Juli yang lalu, saat saya membahas mengenai prinsip psikologis yang melandasi program di Saraswati, timbul berbagai pertanyaan dari orang tua..salah satunya adalah bagaimana agar anak di rumah juga patuh pada peraturan seperti di sekolah. Contohnya: clean up time...saat clean up di sekolah, anak-anak mau melakukannya, tapi di rumah, belum apa-apa udah lari duluan. Contoh lainnya yang dibahas adalah saat anak minta jajan macam-macam di mal, sampai menangis..padahal sebelum berangkat, sudah disepakati bersama bahwa jajannya hanya satu macam saja. Artinya, semua yang dikatakan dalam teori sudah dijalankan, tapi koq tidak berhasil juga??!!!

Anak dalam tahap usia balita ini memang sedang gencar-gencarnya bereksplorasi sejauh apa ia bisa mengendalikan situasi di sekitarnya. Saat bayi, ia belajar bahwa jika ia menangis, bunda akan cepat-cepat menghampirinya. Selama pertumbuhannya ke tahap balita, setiap ia beraksi, ia akan merekam bagaimana reaksi orang dewasa terhadap aksinya tersebut.

  1. Jika orang tua bersikap terlalu permisif dan selalu memberikan apa yang ia inginkan dalam kondisi apapun, maka anak akan cenderung mengendalikan situasi di rumah, dan disiplin menjadi sangat sulit.
  2. Jika orang tua bersikap terlalu otoriter dan sering melarang si anak, maka perkembangan kemandirian dan inisiatif anak akan terhambat.
  3. Yang baik memang adalah sikap yang berada di tengah kedua ekstrim tersebut.

  • Pertama, ada peraturan yang jelas bagi anak, artinya peraturan dan kenapa peraturan tersebut perlu ada, dijelaskan pada anak (sebaiknya berikan alasan sebenarnya karena anak-anak mampu untuk memahami dan akan bisa menerima alasan yang benar, dari pada suatu alasan yang kita buat-buat. Umumnya, anak-anak kita sekarang lebih kritis dari pada kita dulu dan kita akan bingung sendiri jika anak mulai mempertanyakan alasan yang dibuat-buat).

  • Kedua, sangsi pelanggaran didiskusikan dan disepakati bersama anak, dan dijalankan secara konsisten oleh orang tua maupun orang dewasa lainnya di rumah.

  • Hanya jika kedua hal diatas dilaksanakan, barulah anak mendapatkan pesan bahwa orang tua benar-benar serius mengenai peraturan yang bersangkutan. Memang hal ini berarti orang tua harus bersikap tegas (firm) ...jadi walaupun anak menangis, orang tua tidak mengalah - pastinya sedikit menahan rasa malu jika anak menangis di tempat umum..

    Perlu diperhatikan juga saat anak melanggar peraturan, kenapa sebenarnya ia melanggar..seperti pada kasus seorang anak yang suka melompat-lompat di tempat tidur, padahal bunda sudah memberitahu untuk tidak melakukannya beserta alasan bahwa ia akan jatuh dan terluka...Yang pasti si anak butuh tempat aman untuk menyalurkan energinya dengan cara melompat..mungkin yang bisa dilakukan adalah menyediakan matress di lantai supaya ia bisa melompat dengan aman..Kalau sudah diberikan alternatif, dan anak masih juga melanggar barulah kita jalankan sangsi yang sudah ditetapkan bersama si anak.

    Discipline that works!

  • Set appropriate rules for the child and communicate clearly to the child.

  • Involve the child in setting the rules.

  • Consistently apply the rules.

  • Tell the child you love and care for him very much..NEVER withdraw
    your love from the child.

  • Explicitly appreciate the child whenever she is following rules.


    Bagaimana pendapat orang tua yang lain..silahkan dibagikan di blog..harapan saya adalah blog ini bisa menjadi forum diskusi untuk masalah praktis seputar parenting. Maaf kalau selama ini blog tidak terlalu aktif, tapi saya akan usahakan agar lebih sering posting. Salam, Shoba.

Saturday, July 26, 2008

Hari Tanpa TV 2008

Prasekolah Saraswati kembali dipercaya oleh YPMA untuk mengkoordinasi acara kegiatan anak sehubungan dengan Hari Tanpa TV (HTT) 2008 di Monas. Kegiatan anak tersebut merupakan satu dari rangkaian kegiatan yang dilaksanakan berkaitan dengan gerakan ‘Hari Tanpa TV’, yang diprakarsai oleh YPMA. Ditengah semaraknya tayangan televisi yang semakin tidak aman bagi anak-anak, gerakan ‘Hari tanpa TV’ tersebut, yang dimulai sejak tahun 2005, bertujuan untuk mengurangi ketergantungan anak-anak dan keluarga pada televisi, serta mengajak keluarga untuk bersikap lebih kritis terhadap acara televisi yang ditonton oleh anak-anak.

‘Hari tanpa TV’ dimaknai sebagai ajakan bagi keluarga-keluarga dengan anak usia playgroup sampai SD, untuk tidak mengkonsumi televisi selama sehari penuh. Ketimbang menonton televisi, mereka bisa menikmati hari Minggu mereka melalui berbagai kegiatan lainnya yang juga menarik. Supaya gerakan ini bisa lebih dari sekedar ajakan dan mencakup partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat, maka diadakan kegiatan anak di tempat umum seperti Monas.

Kegiatan anak HTT 2008, yang diadakan pada hari Minggu pagi, tanggal 20 Juli 2008 di Monas, berlangsung sangat meriah. Acara diikuti oleh sekitar 100 anak dari usia playgroup, TK sampai usia SD dari berbagai sekolah di wilayah Jakarta Barat yang memang diundang, serta anak-anak yang sedang berkunjung ke Monas bersama keluarga.

Tepat sekali, lokasi HTT 08 merupakan lokasi yang memang banyak diminati oleh keluarga dengan anak-anak kecil, sehingga mereka pun ikut berpartisipasi. Pesan-pesan mengenai perlunya sikap kritis orang tua terhadap tayangan televisi yang semakin tidak sehat bagi anak-anak, cukup mengena pada pengunjung. Ajakan-ajakan untuk mematikan televisi selama sehari penuh pada tanggal 20 Juli 2008 tersebut disambut secara positif oleh pengunjung.

Anak-anak pun sangat menikmati berbagai kegiatan yang sudah disiapkan...ada kegiatan membuat stiker, menggambar kartun, mewarnai, reading literacy, games, dan setiap anak mendapatkan hadiah untuk dibawa pulang!

SURPRISE!!!!Kejutan besar saat ibu walikota Jakarta, yang memang sedang berada di Monas, menyempatkan diri untuk berkunjung ke lokasi HTT 08. Dukungan terhadap gerakan HTT, beliau sampaikan melalui pesan-pesan pada anak-anak dan pengunjung untuk mengurangi ketergantungan pada televisi.
Begitu terkesannya dengan acara kita, bahkan ibu walikota memberikan tantangan pada panitia untuk mengadakan acara yang serupa dalam rangka Hari Ibu Desember 2008 yang akan datang..SDC

Friday, July 25, 2008

Penampilan Baru Saraswati Preschool


Welcome back to School..tahun ajaran 2008-2009!

Tahun ajaran yang baru, Saraswati pun ikut berpenampilan baru dan terkesan lebih cerah dan ceria, bukan? Lagipula, sekarang Saraswati ada cafenya, jadi kalau lapar, ya ngga usah jauh-jauh deh cari makan n minum..sehat lagi menunya!

Sementara anak-anak masih berlibur, 2 minggu menjelang masuk sekolah, team Saraswati sudah sibuk bekerja….ada training guru, diskusi mengenai program, menyusun buku penunjang, supervisi perbaikan gedung dan tambahan office serta pengadaan pernak-perniknya seperti meja, kursi, dan lainnya, desain banner yang baru, sampai mencuci semua alat-alat di kelas, dan menyusun kembali layout kelas.



Terima kasih untuk dukungan, masukkan dan perhatian dari orang tua. Kami berharap kerjasama antara Saraswati dan orang tua bisa lebih erat lagi pada tahun ajaran baru ini. SDC