Sejauh ini, jika kita bicara mengenai efek negatif dari kebiasaan nonton televisi berlebihan pada anak-anak usia dini, yang disorot adalah perubahan negatif pada perilaku anak, seperti adanya kecenderungan anak untuk meniru kekerasan pada televisi. Ternyata, eksposur terhadap televisi yang berlebihan dapat mempengaruhi perkembangan biologis anak. Saya melakukan research di berbagai situs medis - memang di Amerika, banyak kasus anak-anak usia dini yang menderita ADHD dan terlambat bicara karena eksposur pada televisi yang berlebihan (saya belum menemukan statistiknya).
Menurut beberapa artikel yang saya baca, acara televisi dan umumnya acara kartun anak-anak, didesign (sesuai riset periklanan) agar atensi penonton bisa sepenuhnya dan secara tidak sadar, ter’capture’ oleh tayangan. Hal ini dilakukan dengan efek visual yang wah, seperti gerakan-gerakan yang sangat cepat, perubahan warna, serta suara-suara yang keras dan tiba-tiba. Saat menonton televisi, bagian otak yang distimulasi adalah bagian otak yang memberikan reaksi pasif, sedangkan bagian otak yang penting untuk dikembangkan pada usia dini, tersisihkan
Menurut para peneliti, bagian otak, yang disebut sebagai pre-frontal cortex - pusat perkembangan bahasa, berpikir logis, dan pengendalian diri - pada anak-anak yang menonton televisi secara berlebihan, kurang berkembang. Hal inilah yang mengakibatkan keterlambatan bicara ataupun ADHD pada anak-anak tersebut.
Sebaiknya kita lebih waspada...
Saturday, September 27, 2008
Friday, September 5, 2008
QUIZ QUIZ QUIZ QUIZ ....BERHADIAH
Koq ngga belajar..hanya maen aja?
Sehari-hari di kelas, murid-murid Saraswati terlihat asyiik bermain. Terus kapan belajarnya? Apakah pertanyaan ini sempat terpikirkan oleh orang tua?
Silahkan menjawab dan dapatkan hadiah menarik bagi 3 komentar pertama.
Sehari-hari di kelas, murid-murid Saraswati terlihat asyiik bermain. Terus kapan belajarnya? Apakah pertanyaan ini sempat terpikirkan oleh orang tua?
Silahkan menjawab dan dapatkan hadiah menarik bagi 3 komentar pertama.
Karakter anak berkembang secara sirkuler
Beberapa aspek dari karakter anak berkembang secara sirkuler - yang positif semakin positif dan yang negatif semakin negatif. Salah satu contoh dari proses perkembangan karakter yang membentuk siklus negatif adalah sebagai berikut:
Seorang anak yang pemalu akan cenderung untuk menyendiri, teman-temannya pun tidak akan mendekatinya, dan karenanya skill anak dalam hal sosialisasi tidak berkembang. Karena anak tidak bisa bersosialisasi, maka ia akan semakin menarik diri dari orang lain dan sifat pemalunya semakin akut. Demikian seterusnya, siklus negatif semakin menjadi. Sebagaimana yang dikatakan oleh Prof. Katz, anak-anak tidak mungkin bisa dengan sendirinya memutuskan siklus negatif tersebut, disinilah dibutuhkan bantuan dan kreatifitas dari orang tua dan guru..bagaimana menciptakan suasana dimana anak mendapatkan kesempatan untuk bangkit dari sifat pemalunya tanpa harus memaksa atau membuat ia stres melakukan sesuatu yang tidak ia sukai. Mungkin orang tua ada yang mau membagikan pengalamannya....
Seorang anak yang pemalu akan cenderung untuk menyendiri, teman-temannya pun tidak akan mendekatinya, dan karenanya skill anak dalam hal sosialisasi tidak berkembang. Karena anak tidak bisa bersosialisasi, maka ia akan semakin menarik diri dari orang lain dan sifat pemalunya semakin akut. Demikian seterusnya, siklus negatif semakin menjadi. Sebagaimana yang dikatakan oleh Prof. Katz, anak-anak tidak mungkin bisa dengan sendirinya memutuskan siklus negatif tersebut, disinilah dibutuhkan bantuan dan kreatifitas dari orang tua dan guru..bagaimana menciptakan suasana dimana anak mendapatkan kesempatan untuk bangkit dari sifat pemalunya tanpa harus memaksa atau membuat ia stres melakukan sesuatu yang tidak ia sukai. Mungkin orang tua ada yang mau membagikan pengalamannya....
Skills dan Disposisi..
Sebagai guru dan orang tua, seharusnya kita tidak hanya fokus pada perkembangan skills, misalnya skill untuk membaca, tetapi sama pentingnya adalah mengembangkan disposisinya untuk membaca – artinya, mengembangkan motivasi internal dalam diri anak untuk membaca. Seorang anak yang memiliki skills tanpa adanya disposisi untuk membaca, hanya akan membaca di sekolah saja. Di luar sekolah, ia sama sekali tidak mau membaca. Sebaliknya, memiliki disposisi saja tanpa skills juga tidak cukup. Maka keduanya skills maupun disposisi seharusnya sama-sama dikembangkan. Mungkin kita sudah tahu bagaimana mengembangkan skills. Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa mengembangkan disposisi positif pada anak? Mungkin ada yang mau menyumbangkan pemikirannya…Silahkan!
Bedanya Knowledge & Understanding
‘Knowledge’ dan ‘Understanding’ adalah dua hal yang berbeda. Seorang anak usia 3 tahun ingat betul bahwa hari ini adalah hari Senin sesuai dengan apa yang diberitahu oleh guru. Saat anak tersebut ditanya ‘nanti pas sampai di rumah hari apa? Anak tersebut merenung dan mengatakan ‘ngga tahu deh’. Anak tersebut memiliki pengetahuan mengenai kalender karena setiap hari guru memperlihatkan dan membahasnya, tetapi ia tidak memahaminya karena memang belum waktunya untuk memahami konsep tersebut. Professor Katz mengatakan bahwa terlalu dini memberikan pengetahuan yang belum relevan dapat menghambat berkembangnya habit untuk berpikir pada anak. Artinya, lama-kelamaan anak akan malas untuk berpikir sendiri dan hanya menerima apa yang diberitahukan oleh gurunya. Ternyata, kalau sudah soal pendidikan, filosofi ’the earlier the better’ bisa jadi merugikan anak.
Internation Conference on Early Childhood and Elementary Education

Pada tanggal 19 & 20 Agustus yang lalu, saya mengikuti International Conference on Early Childhood and Elementary Education. Konferensi yang diadakan selama 2 hari di Gedung Dikti Senayan bertemakan ‘Engaging children’s minds and hearts’, dan dibawakan oleh seorang professor dari Amerika Serikat Lilian Katz dan seorang trainer dalam early childhood dari Singapore, Puspa Sivan. Keduanya sangat mengesankan! Indonesia adalah negara ke-50 yang didatangi oleh Lilian Katz untuk membagikan pengalaman dan hasil risetnya mengenai bagaimana anak-anak usia dini berkembang, dan metode pendidikan yang tepat untuk perkembagan optimal anak – kesempatan emas yang tidak saya sia-siakan! Dari awal berdirinya Saraswati sekitar 10 tahun yang lalu, buku-buku dan metode yang dikenalkan oleh Lilian, menjadi referensi bagi saya dalam mengembangkan program di Saraswati. Saya bagikan beberapa poin yang sangat interesting, yang bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua, dalam beberapa posting berikutnya.
Friday, August 22, 2008
Pembentukan karakter anak.
Minggu lalu, di kelas, seorang anak memukul temannya dengan sedotan. Si anak memang tidak bermaksud untuk menyakiti temannya, ia hanya ingin mengekspresikan kesenangannya, namun caranya kurang tepat dan ia telah membuat temannya menangis. Kak Herly menjelaskan padanya bahwa memukul seperti itu menyakiti teman - sebagaimana kita sendiri tidak mau disakiti, kita juga tidak boleh menyakiti teman. Lalu Kak Herly mengajak si anak untuk meminta maaf pada temannya yang kena pukul tadi. Namun si anak menolak..bahkan sampai pada waktu pulang, ia bersikeras menolak untuk minta maaf pada temannya.
Kebetulan pada hari tersebut, teacher membawa stiker dan ingin membagikannya pada anak-anak sebagai tanda terima kasih bahwa mereka sudah bisa untuk mengikuti peraturan di kelas. Si anak yang memukul temannya, dengan antusias menunggu stikernya, tetapi kali ini ia tidak mendapatkan stiker karena ia masih juga tidak mau untuk meminta maaf pada temannya.
Pada saat-saat seperti inilah terjadi pergumulan yang hebat dalam hati teacher, antara ’nggak tega’ tetapi harus tetap menjalankan peraturan agar anak ’belajar’. Kak Herly memeluknya dan menjelaskan padanya kenapa ia tidak bisa mendapatkan stiker, dan menekankan bahwa teacher tetap sayang padanya.
Keesokan harinya, saat sampai di sekolah, si anak langsung datang ke Kak Herly dan mengatakan, ..’Kak, aku mau minta maaf......’ Wow...apa yang terjadi, si anak tahu-tahu berubah haluan? Ternyata si anak menceritakan seluruh kejadian di sekolah pada neneknya di rumah. Nenek pun mendukung teacher dan menjelaskan kembali pada si anak bahwa ia harus meminta maaf dan tidak memukul temannya lagi.
Sebagai teacher memang kita harus selalu memainkan ‘balancing act’, sejauh apa kita masih bisa bersikap permisif terhadap anak, dan kapan kita harus men-tega-kan diri, demi pembentukan karakter positif pada anak-anak. Apa yang dilakukan oleh teacher tentunya hanya akan berhasil jika didukung oleh orang tua di rumah. Karenanya Saraswati selalu membuka kesempatan bagi orang tua untuk berkomunikasi dengan tim Saraswati. SDC.
Kebetulan pada hari tersebut, teacher membawa stiker dan ingin membagikannya pada anak-anak sebagai tanda terima kasih bahwa mereka sudah bisa untuk mengikuti peraturan di kelas. Si anak yang memukul temannya, dengan antusias menunggu stikernya, tetapi kali ini ia tidak mendapatkan stiker karena ia masih juga tidak mau untuk meminta maaf pada temannya.
Pada saat-saat seperti inilah terjadi pergumulan yang hebat dalam hati teacher, antara ’nggak tega’ tetapi harus tetap menjalankan peraturan agar anak ’belajar’. Kak Herly memeluknya dan menjelaskan padanya kenapa ia tidak bisa mendapatkan stiker, dan menekankan bahwa teacher tetap sayang padanya.
Keesokan harinya, saat sampai di sekolah, si anak langsung datang ke Kak Herly dan mengatakan, ..’Kak, aku mau minta maaf......’ Wow...apa yang terjadi, si anak tahu-tahu berubah haluan? Ternyata si anak menceritakan seluruh kejadian di sekolah pada neneknya di rumah. Nenek pun mendukung teacher dan menjelaskan kembali pada si anak bahwa ia harus meminta maaf dan tidak memukul temannya lagi.
Sebagai teacher memang kita harus selalu memainkan ‘balancing act’, sejauh apa kita masih bisa bersikap permisif terhadap anak, dan kapan kita harus men-tega-kan diri, demi pembentukan karakter positif pada anak-anak. Apa yang dilakukan oleh teacher tentunya hanya akan berhasil jika didukung oleh orang tua di rumah. Karenanya Saraswati selalu membuka kesempatan bagi orang tua untuk berkomunikasi dengan tim Saraswati. SDC.
Subscribe to:
Posts (Atom)