Sunday, December 21, 2008

Bereksplorasi dengan magnet



Tgl 11 Nopember yang lalu, Ibu Jovita, bunda dari x-murid Saraswati, mengajak murid-murid TK Saraswati bermain dengan magnet. Ibu Jovita berpengalaman sebagai guru Sains dan Kepala Sekolah di salah satu national plus school yang ternama.
‘Anak-anak, ada yang tahu apa itu magnet?’ tanya ibu Jovita.
‘Itu…bisa nempel’, jawab Gede.
’Bisa narik logam’, lanjut Popo.
‘Iya benar, ini ibu bawa berbagai bentuk magnet,’ ibu Jovita memperlihatkan magnet berbentuk U, dan magnet berbentuk balok kecil maupun yang besar. Kemudian anak-anak diberikan kesempatan untuk mencoba sendiri mendekatkan magnet ke berbagai objek (dari kayu, kertas, maupun logam), dan mengobservasi sendiri yang mana bisa menempel, dan yang mana tidak bisa menempel.
‘Kalo kita deketin magnet, pasti tangan kita bukan logam, tapi kalo sendoknya yang dideketin ke magnet, ditarik’, Gede menyimpulkan observasinya.
‘magnet sama magnet bisa nempel’, Keisya berkata. ‘Tapi yang merah sama merah, ngga mau nempel karena aneh’, lanjut Keisya.
‘Bukan aneh’,Ibu Jovita menjelaskan, ‘itu karena magnet punya dua kutub, N artinya north atau utara, dan S artinya south atau selatan. Jika kutub yang sama berdeketan, magnetnya akan menolak, tapi kalau kutub yang berbeda berdeketan, magnetnya menempel.
Setelah anak-anak puas bereksperimen dengan magnet, ibu Jovita membagikan kertas berwarna. 'Kita mau buat ikan dari kertas berwarna ini'. ’Aku mau buat orang aja’, sahut Feli. ’Iya, boleh yang tidak mau buat ikan boleh buat yang lain.’, jawab ibu Yovita. ’Yang sudah selesai bisa minta paper clip dari ibu, klipnya kita pasang pada karya, kemudian kita dekatkan magnet’, lanjut bu Yovita..’wah, ketarik orang nya’...
Demikian kegiatan eksplorasi dengan magnet berlangsung selama 1 jam dengan reaksi yang begitu antusias dari anak-anak. Terima kasih Bu Jovita.

Suasana Perayaan Hari Ibu 6 DES 2008


Performances...



Fun Activities....



It's time to say 'I love you, Mom'




Flowers for the most experienced mother....ibu Kartini
Finally, let's pose for the camera




Thursday, December 4, 2008

COME AND JOIN US..for Mother's day


Ayo bergabung bersama Saraswati serta rekan-rekan TK dan SD wilayah Jakarta Barat, untuk
Acara HARI IBU

di Monas, sebelah taman reflexologi (depan kandang rusa)

pada hari Sabtu, 6 Desember, 2008,

pukul 8.00 – 11.00 pagi.

Tema Acara adalah ’Aku sayang bunda/I love you, Mom’.


Ada Kegiatan ’membuat karya untuk bunda’, ’membuat kartu ucapan untuk bunda’, performance dari anak-anak, mewarnai dan menggambar bebas, dan masih banyak lagi.

C U there...

Wednesday, December 3, 2008

Outing ke Bukit Baros



7 Nopember yang lalu, parents, teachers dan children outing ke Bukit Baros di Sukabumi. Disana ada pabrik keju, peternakan sapi perah, kebun teh, hutan kecil dan pemandangan yang sangat indah . Anak-anak mendapatkan kesempatan untuk melihat bagaimana proses pembuatan keju. Sambil memberi makan pada sapi, anak-anak, juga melihat bagaimana pemerahan sapi.
Kak, makannya diambil sapi yang itu’, protes seorang anak pada teacher. Rupanya salah satu sapi cukup agresif dan merebut makanan yang diberikan ke sapi lainnya.
Sambil berjalan melalui hutan, banyak hewan kecil yang ditemukan anak-anak. ‘Kak, itu ada kumbang’.

Hujan mulai turun rintik-rintik, kemudian deras. Tidak apa, semua sudah siap dengan payung dan jas hujan. Kita teruskan petualangan di Bukit Baros.
Setelah menjelajahi hutan kecil, rombongan sampai di kebun teh. Acara selanjutnya adalah memetik daun teh.
‘Yang dipetik adalah daun muda yang berada di pucuk pohon teh..Ayo, coba anak-anak petik daun tehnya’, ajak pemandu.
Anak-anak bergegas mencari daun teh, ‘Ini, aku dapet’, lapor salah satu anak ke pemandu. ‘Iya, itu benar’, jawab pemandu. Seusai memetik daun teh, anak-anak menikmati minuman teh.
Wah, berpetualang di pabrik keju, kandang sapi, dan kebun teh membuat anak-anak cukup lapar! ‘Hmmm… nasi putih, ayam goreng dan sup lezat sudah menunggu!’ Masih ada lagi lho, yang mau mencicipi pizza pakai keju buatan sendiri, bisa langsung mengambilnya di pos pizza.
Setelah makan siang, ada games untuk anak-anak. Kemudian waktunya untuk menuju pulang karena perjalanan cukup jauh dan macet….Pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak, parents maupun teachers!
Hari Seninya, anak-anak diberikan kesempatan untuk mengekspresikan apa yang mengesankan di Bukit Baros. Vira bercerita mengenai karyanya,’Di Bukit Baros, ada gunung; ini tempat teduh, terus ini kandang sapi.’ Olla menunjukkan karyanya pada teacher, sambil bercerita , ’Ini Olla lagi kasih makan sapi.’

Wednesday, November 19, 2008

Yoga with children and parents



‘Healthy since childhood’ merupakan tema Parents’ day tgl 1 Nopember 2008 yang lalu. Acara berlangsung meriah, dan hampir semua orang tua ikut berpartisipasi.


Acara dibuka oleh ibu Meta (mama Putra) dengan mengajak anak-anak berdoa bersama, dilanjutkan dengan aktifitas music and movement yang juga dipimpin oleh ibu Meta. Kak Helen dan Kak Tri kemudian memimpin senam irama.
Discussion time - Ibu Lisa (mama Popo) mengajak anak-anak mengenal jenis-jenis makanan yang sehat. Semua anak berpartisipasi dengan antusias. Seusai pembahasan mengenai makanan sehat, tibalah saatnya untuk berlatih yoga tapi sebelumnya sedikit kata sambutan dari ibu komite.





’Ada yang tahu apa itu yoga?’ tanya teacher saat di kelas sehari sebelum acara. ’Kak, Yoga kan nama teman kita, sekarang udah SD’, kata Nanda.

Transisi ke kegiatan yoga dimulai dengan duduk bersila, memejamkan mata dan menghentikan semua gerakan dan bicara. ’Relax and try to listen to each and every sound outside.’

‘Ngga, ga ada suara apa-apa, tuh!’, Popo nyeletuk, sementara anak-anak lainnya dan parents menikmati kesunyian di ruangan. ‘Ok, slowly open your eyes. Kita mulai dengan latihan kecil untuk melemaskan otot, dimulai dari jari-jari. Let’s start with Thumbkin..move thumbkin up and down, then pointer, tall man, ring man and little man…demikian latihan berlanjut..




Selesai melemaskan otot-otot, anak-anak dan parents mencoba melakukan berbagai pose yoga – the tree pose, the cat-cow pose (meow – moo), the snake pose (ssssss Sammy Snake), forward and backward bending, the butterfly pose.

‘Bu shoba, Gede mau frog’….’Alright, let’s do the frog pose together.’


Wah, cape juga dan keringetan! Ok, time to relax in savasana – the corpse pose sambil mendengarkan musik. Hmmm…parents dan anak-anak terlihat sangat menikmati pose ini. Sudah 5 menit, tapi masih pada menikmati savasana…10 menit, ’Time to get up..rub your hands together, put your palm over your eyes and slowly open your eyes. Then turn to your side and come to a sitting position.’
Sampai deh pada bagian akhir latihan yoga, yaitu latihan pernapasan…Ok, last exercise - let’s hum like bees. Cover your ears with the palm of your hands and feel the vibration… ‘Gede senang humming, suaranya kedengerannya keras.’ Ok enough yoga, Gede....Time for lunch.

Tuesday, November 4, 2008

Menegur ketidaktepatan anak melalui cerita/drama

Beberapa posting yang lalu, saya sharing sedikit mengenai sistem pendidikan di Sekolah Waldorf, dan beberapa prinsip dasar mereka sudah kita terapkan di Saraswati, seperti menegur anak yang kurang tepat, tidak secara langsung, tetapi melalui cerita. Simak kejadian berikut:

Bermain dengan api :
‘Nanda luka tangannya saat bermain api di rumah bersama dengan sepupunya.’ lapor bunda Nanda ke teacher. Menurut Bunda, ia sudah melarangnya. Apa boleh dikata, curiosity anak pada usia dini memang sedang berkembang dengan gencar.

Saat circle time, setelah menyanyikan beberapa nursery rhymes, Kak Tri mengatakan bahwa ia punya mainan baru sambil menyembunyikan tangannya.

‘Apa, kak; apa, kak?’ ‘boneka ya, kak?’ tanya anak-anak.
‘Bukan, kalo itu ngga seru, yang ini mainannya seru sekali’, Kak Tri menjawab. Anak-anak sudah tidak sabar dan sangat mengharapkan bahwa Kak Tri memperlihatkan mainannya yang baru dan seru itu. Akhirnya, Kak Tri menunjukkan mainannya.
‘Ini dia, mainannya!’ Kak Tri memperlihatkan korek api sambil menyalakan/mematikan apinya. Wajah anak-anak terlihat bingung.

‘Kak, itu kan korek api, kak.’
Alil berkata,’Kak, itu kan buat nyalain rokok ayah..bukan mainan!’
Seorang anak lainnya nyeletuk,’awas kena lho, kak’. Pada saat inilah Nanda tertegur..’iya kak, seperti aku kena nih di tanganku.’

Kak Tri (sambil menyalakan apinya, dengan tiba-tiba) : ‘OUW…..tanganku kena apinya.’
'Makanya, Kak, jangan main api', seru seorang anak.

Visit to the doctor's clinic



Minggu lalu, anak-anak mengunjungi klinik dokter. Untuk itu, teacher menjelaskan pentingnya anak-anak memakai masker selama berada di klinik. Pada hari H, Popo tidak mau memakai masker – apapun yang dikatakan oleh teacher, ia tetap tidak mau, sampai pada saat Zuster Lina mengajak anak-anak melihat ruangan adik-adik bayi.
’Untuk satu ini, semuanya harus memakai masker, ya!’, Zr.Lina mengingatkan. Popo duduk dan merenung. Mama Popo mencoba membujuk, sambil Popo menggeleng-gelengkan kepala. ’Popo hanya punya 2 pilihan – Popo tidak pakai masker dan tetap tunggu disini, atau, Popo pakai masker dan ikut yang lain masuk ke ruang adik bayi. Popo mau yang mana?’, saya tegaskan. ’Ga papa kalau Popo pilih untuk tidak pakai masker tapi Popo duduk disini.’ Popo berpikir dan kemudian ia langsung memakai masker dan berlari mengikuti teman-teman lainnya yang sudah menuju ke ruang adik bayi.

Anak-anak secara bergilir masuk ke ruang dokter. Adik-adik Playgroup masuk ke ruang dokter dengan penuh ragu-ragu. ’Dokter ngga apa-apa, ngga usah takut’, dokter mencoba membujuk. Dokter lalu menjelaskan guna dan cara memakai stethoscope. ’Ini namanya stethoscope, untuk periksa organ di dalam dada, seperti jantung, paru-paru.’ ’Aku mau coba’, Gede berseru dengan antusias. Kemudian Zr. Lina memperlihatkan bagaimana mengukur tensi..’Ayo, kita ukur tensi gurunya aja, ya.’ Anak-anak lalu berkerumun memperhatikan Kak Helen ditensi oleh Zr. Lina. Wah, tensinya normal 120/70.

Sementera di koridor, Vira ingin mengetahui apa yang tertera pada poster vitamin. Saat di ruang dokter gigi, anak-anak bertanya,’koq ada bonekanya, untuk apa televisinya?’ Popo langsung berselonjor di kursi periksa dan berkata,’begini, kalo mau periksa gigi.’