Saat membacakan buku cerita yang berjudul Grouchy Lady Bug, anak-anak sangat serius menyimak, tetapi walaupun serius tetap diselingi percakapan sederhana yang mengajak anak-anak untuk dialog. Saat ditanya "apa sih yang menyebabkan kita ingin marah atau grouchy?", anak-anak menjawab:
Timi: when Rean takes a pin (Rean suka mencabut pin di papan display)
Ravi: when my friends are angry
Raia: when Sasa hits me
Rean: when friends don't want to play with me
Abigael: when Raia will not lend me her book
Ekal: when someone disturbs my play
Panji: when someone is angry with me
Gian: when Ekal disturbs when I read
Rayn: when I have to eat noodles
Kemudian teacher kembali bertanya, "When are we friendly?". Berbagai jawaban pun terlontar dari anak-anak, seperti:
Rayn: when I get kentucky chicken
Gian: when Rayn plays with me
Panji: when friends laugh
Rean: when friends want to laugh
Ekal: when I play
Ravi: when I have a swimming pool
Abigael: when Azka plays word game
Timi:when friends play
Raia: when Abigael plays with me.
Lalu teacher bertanya bagaimana merubah mood kita dari 'grouchy menjadi 'friendly'? Anak-anak menjawab: dengan cara:" play, say sorry, laugh, breathe, read book, play cars, walk together, play in the garden, eat, eat chicken and pudding".
Selesai dialog, anak-anak dengan semangat memainkan peran sesuai cerita 'The Grouchy Ladybug', apalagi teachers punya recording dari kakak-kakak kelas yang pernah memainkan drama tersebut.
Thursday, March 21, 2013
Wednesday, March 20, 2013
Belajar Membaca dengan Word Card
Pagi hari sebelum kelas dimulai, terlihat murid-murid Saraswati sibuk dengan kegiatan dan mainan masing-masing. Ada yang bermain balok dengan menciptakan berbagai bangunan, ada yang berkreasi dengan lego dengan menciptakan berbagai bentuk pesawat dan ada juga yang sibuk dengan kertas dan pensil warna untuk menggambar sesuai dengan kreasi dan imajinasi.
Namun ada bagian sudut dari kelas yang sangat menarik perhatian dan lain dari biasanya,,,,ada apa ya???

ternyata di sudut yang biasa disebut quite area anak-anak perempuan sedang asik mengajarkan adik Azka, Khayla dan Raissa yang merupakan murid Play Group, membaca dengan permainan Word Card.
Suasana kekeluargaan yang selalu hadir di Saraswati Preschool, terlihat dalam kegiatan ini. Sang kakak dengan senang hati mengajarkan adik dengan cara permainan kartu dengan berbagai gambar.
Dengan permainan sederhana, anak pun dapat dapat belajar.
Namun ada bagian sudut dari kelas yang sangat menarik perhatian dan lain dari biasanya,,,,ada apa ya???

ternyata di sudut yang biasa disebut quite area anak-anak perempuan sedang asik mengajarkan adik Azka, Khayla dan Raissa yang merupakan murid Play Group, membaca dengan permainan Word Card.
Suasana kekeluargaan yang selalu hadir di Saraswati Preschool, terlihat dalam kegiatan ini. Sang kakak dengan senang hati mengajarkan adik dengan cara permainan kartu dengan berbagai gambar.
Dengan permainan sederhana, anak pun dapat dapat belajar.
Monday, February 11, 2013
Roketku Berbentuk Ikan
![]() |
| hasil gambar |
Teacher menghampiri Darren.....
Teacher : Darren mewarnai ikan ya?
Darren : Bukan!! (dengan wajah "menyureng")
Teacher : lalu itu apa Darren?
Darren : ini roket....
Teacher : O,,,roket yang bentuknya seperti ikanya ?
Darren mengangguk,,,
Teacher : Api roketnya keluar dari ekor dan roketnya terbang ke angkasa pakai sirip.
Darren mengangguk-angguk dan senyum mulai terlihat diwajahnya yang sebelumnya 'nyureng'
Teacher : ayoo,,,,,diwarnai Darren roket ikannya.
Darren pun semangat mewarnai sampai selesai, lalu teacher membantu Darren menulis 'ini roket ikan keluar api dari ekor' dengan cara memegang tanggan Darren yang sedang memegang pensil/krayon.
Dengan kita masuk kedunianya, si anak pun yang sebelumnya tidak semangat bisa jadi semangat :)
Wednesday, February 6, 2013
Problem Solving skills and Empathy grows in KG
Panji menghampiri teacher dengan wajah yang
hampir menangis
Panji ke teacher: Aku kan lagi beresin
blocksnya, tapi Gian ngga mau beresin.
Teacher: Gian ikut main sama Panji?
Panji: iya, Gian ikut main tapi dia ngga
mau beresin (dengan ekspresi sedih)
Teacher memanggil Gian, yang sedang sibuk
berinteraksi dengan teman yang lain.
Teacher: Gian, bisa kesini sebentar, ini
ada masalah yang harus diselesaikan.
Gian menghampiri teacher.
Teacher: Kata Panji Gian tidak mau bereskan
mainan padahal Gian ikut bermain sama Panji tadi.
Gian: Aku mau beresin, tapi Ekal bilang
‘jangan’ karena aku mainnya Cuma sebentar.
Teacher: Lho, peraturan kita kan mau main
sebentar atau lama, kita harus bereskan. Bahkan kalo ada teman yang tidak ikut
main, kita sama-sama membereskan kelas juga lebih baik lagi.
Teacher ke Gian: Gian bukannya sudah tahu
peraturan kelas, Ekal juga?
Ekal dan Gian diam sambil berpikir. Tidak
lama kemudian, Gian membantu Panji membereskan blocks kembali ke rak.
Sedangkan Ekal lari menyendiri ke quiet
area. Teacher membiarkan Ekal merenung.
Teacher melihat Ekal duduk bersila, sambil memejamkan matanya. Setelah
beberapa saat, teacher menghampirinya, dan bertanya, ‘Ekal, lagi apa?’
Ekal: Aku mau main ‘bikin bentuk dari
karet’ tapi masih dimainin sama Raia.
Teacher: O, mau baca buku saja sambil
menunggu giliran?
Ekal memilih buku, ‘where the wild things
are’ dan teacher membacakannya.
Tidak lama kemudian, Gian dan Panji ikut
nimbrung. Selesai cerita, Gian ingin dibacakan ‘I love mummy’.
Teacher (pada akhir cerita): Iya, we all
love mummy. I love my mummy, too walaupun mummy (teacher) sudah tidak ada.
Ekal: O, sudah meninggal?
Teacher: Iya, Ekal, mummy (teacher) sudah
sama Tuhan.
Panji (dengan wajah yang penuh empati dan
serius): O, kalo gitu (teacher) tidur sendiri? Tidurnya sama mbak, ya?....
Begitulah sehari-hari di saraswati
preschool, karena ada waktu untuk berdialog antara teman dan teacher, banyak pengalaman
problem solving dan kesempatan untuk mendiskusikan hal-hal diluar akademis bagi anak-anak.
Thursday, January 31, 2013
Artikel Kompas 31 Januari 2013
Banyak Obat Bisa Tak Tepat
Kamis, 31 Januari 2013 | 08:24 WIB
Oleh : Brigitta Isworo Laksmi
Terserang batuk? Terserang pilek? Jika kita ke dokter bisa-bisa pulang
membawa sekantong penuh obat. Obat untuk bermacam gejala mulai dari
pilek, batuk, pusing, atau sakit kepala serta berbagai keluhan gangguan
kesehatan lain. Dua hari kemudian, kita merasa segar lagi, merasa diri
sembuh. Benarkah demikian?
Penelitian Yayasan Orangtua Peduli menemukan, pada praktiknya, banyak
dokter justru mendorong penggunaan obat tidak rasional (irrational use
of drugs/IRUD), bukannya mendorong praktik penggunaan obat secara
rasional (rational use of medicine/RUM).
Dokter anak Wiyarni Pambudi dalam Seminar Smart Parents, Healthy
Children, Happy Family di sekolah untuk Prasekolah Saraswati, Sabtu
(26/1), mengatakan, ”Banyak resep yang ’gawat’.”
Resep-resep gawat tersebut tulisannya demikian sulit dibaca sehingga
rawan salah baca. Jumlah obatnya banyak pula. Wiyarni mengingatkan,
semua obat memiliki efek samping.
Ada beberapa jenis keluhan gangguan kesehatan yang bersifat self
limiting. Artinya, gangguan kesehatan itu bisa sembuh hanya dengan daya
tahan tubuh sendiri. ”Batuk, pilek, diare, dan luka ringan bersifat self
limiting. Perlu waktu satu minggu hingga dua minggu untuk sembuh,” ujar
Wiyarni.
Obat berfungsi ”topeng”
Pada praktiknya, banyak ditemukan bahwa obat yang diberikan sebagian di
antaranya bukan berfungsi menyembuhkan penyakit, melainkan hanya
berfungsi sebagai ”topeng”. Pasien terlihat sehat, padahal sebenarnya
obat hanya ”menutupi” kondisi sebenarnya.
Misalnya, diberi steroid yang berfungsi sebagai doping. Karena minum
steroid, pasien terlihat segar, padahal sebenarnya ia masih sakit. Hasil
senada didapatkan jika pasien meminum antihistamin.
”Obat antialergi diberikan untuk pasien dengan keluhan batuk. Efek
antihistamin adalah mengantuk. Alhasil, anak tampak tenang, tidak
rewel.... Itu dikira sudah membaik, padahal belum,” tutur Wiyarni.
Sementara itu, bagi anak-anak, sakit batuk-pilek merupakan gangguan
kesehatan paling sering. ”Sakit anak-anak sebenarnya merupakan mekanisme
alamiah untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka,” ungkapnya.
Sistem kekebalan tubuh bayi saat dalam rahim masih ikut sang ibu. Selain
gangguan kesehatan, sistem kekebalan tubuh juga terbangun melalui
pemberian air susu ibu (ASI). Menurut Nia Umar dari Asosiasi Ibu
Menyusui Indonesia (AIMI), sistem kekebalan tubuh anak yang mendapat ASI
akan lebih baik dibandingkan dengan anak yang tidak mendapat ASI.
Pendorong RUM
Definisi penggunaan obat secara rasional (RUM), menurut Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1975, mencakup unsur-unsur: pasien
mendapatkan pengobatan sesuai kebutuhan klinis, dosis obat yang
diberikan sesuai kebutuhan setiap individu selama periode waktu yang
tepat, dan harga murah.
Menurut Wiyarni, agar semua syarat tersebut terpenuhi, dokter harus
memenuhi kewajibannya mengedukasi pasien. Pasien harus paham soal
diagnosis (soal kondisi pasien saat itu), prognosis (kemungkinan yang
bakal terjadi terkait penyakit pasien), serta menjelaskan soal terapi
yang dilakukan.
Di sisi lain, pasien seharusnya mengetahui juga hak-haknya. Hak-hak
terkait konsultasi dengan dokter, di antaranya hak mendapat informasi
jelas mengenai indikasi penyakitnya, informasi terkait efek samping
obat, informasi terkait cara kerja obat, dan hak untuk meminta obat
generik yang murah.
Wiyarni yang menjabat Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Tarumanegara tersebut menegaskan, ”Pasien harus
proaktif, mencari informasi untuk pencegahan salah obat. Yang punya
bayi, misalnya, sebaiknya punya buku data obat.”
Yang pasti, RUM bertujuan untuk melindungi pasien dari pemberian obat
berlebihan, kesalahan pengobatan, atau rendahnya upaya mengobati. ”Pada
intinya, obat adalah racun,” ungkap Wiyarni. Banyak obat, belum tentu tepat.
http://health.kompas.com/read/2013/01/31/08243641/Banyak.Obat.Bisa.Tak.Tepat
Kamis, 31 Januari 2013 | 08:24 WIB
Oleh : Brigitta Isworo Laksmi
Terserang batuk? Terserang pilek? Jika kita ke dokter bisa-bisa pulang
membawa sekantong penuh obat. Obat untuk bermacam gejala mulai dari
pilek, batuk, pusing, atau sakit kepala serta berbagai keluhan gangguan
kesehatan lain. Dua hari kemudian, kita merasa segar lagi, merasa diri
sembuh. Benarkah demikian?
Penelitian Yayasan Orangtua Peduli menemukan, pada praktiknya, banyak
dokter justru mendorong penggunaan obat tidak rasional (irrational use
of drugs/IRUD), bukannya mendorong praktik penggunaan obat secara
rasional (rational use of medicine/RUM).
Dokter anak Wiyarni Pambudi dalam Seminar Smart Parents, Healthy
Children, Happy Family di sekolah untuk Prasekolah Saraswati, Sabtu
(26/1), mengatakan, ”Banyak resep yang ’gawat’.”
Resep-resep gawat tersebut tulisannya demikian sulit dibaca sehingga
rawan salah baca. Jumlah obatnya banyak pula. Wiyarni mengingatkan,
semua obat memiliki efek samping.
Ada beberapa jenis keluhan gangguan kesehatan yang bersifat self
limiting. Artinya, gangguan kesehatan itu bisa sembuh hanya dengan daya
tahan tubuh sendiri. ”Batuk, pilek, diare, dan luka ringan bersifat self
limiting. Perlu waktu satu minggu hingga dua minggu untuk sembuh,” ujar
Wiyarni.
Obat berfungsi ”topeng”
Pada praktiknya, banyak ditemukan bahwa obat yang diberikan sebagian di
antaranya bukan berfungsi menyembuhkan penyakit, melainkan hanya
berfungsi sebagai ”topeng”. Pasien terlihat sehat, padahal sebenarnya
obat hanya ”menutupi” kondisi sebenarnya.
Misalnya, diberi steroid yang berfungsi sebagai doping. Karena minum
steroid, pasien terlihat segar, padahal sebenarnya ia masih sakit. Hasil
senada didapatkan jika pasien meminum antihistamin.
”Obat antialergi diberikan untuk pasien dengan keluhan batuk. Efek
antihistamin adalah mengantuk. Alhasil, anak tampak tenang, tidak
rewel.... Itu dikira sudah membaik, padahal belum,” tutur Wiyarni.
Sementara itu, bagi anak-anak, sakit batuk-pilek merupakan gangguan
kesehatan paling sering. ”Sakit anak-anak sebenarnya merupakan mekanisme
alamiah untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka,” ungkapnya.
Sistem kekebalan tubuh bayi saat dalam rahim masih ikut sang ibu. Selain
gangguan kesehatan, sistem kekebalan tubuh juga terbangun melalui
pemberian air susu ibu (ASI). Menurut Nia Umar dari Asosiasi Ibu
Menyusui Indonesia (AIMI), sistem kekebalan tubuh anak yang mendapat ASI
akan lebih baik dibandingkan dengan anak yang tidak mendapat ASI.
Pendorong RUM
Definisi penggunaan obat secara rasional (RUM), menurut Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1975, mencakup unsur-unsur: pasien
mendapatkan pengobatan sesuai kebutuhan klinis, dosis obat yang
diberikan sesuai kebutuhan setiap individu selama periode waktu yang
tepat, dan harga murah.
Menurut Wiyarni, agar semua syarat tersebut terpenuhi, dokter harus
memenuhi kewajibannya mengedukasi pasien. Pasien harus paham soal
diagnosis (soal kondisi pasien saat itu), prognosis (kemungkinan yang
bakal terjadi terkait penyakit pasien), serta menjelaskan soal terapi
yang dilakukan.
Di sisi lain, pasien seharusnya mengetahui juga hak-haknya. Hak-hak
terkait konsultasi dengan dokter, di antaranya hak mendapat informasi
jelas mengenai indikasi penyakitnya, informasi terkait efek samping
obat, informasi terkait cara kerja obat, dan hak untuk meminta obat
generik yang murah.
Wiyarni yang menjabat Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Tarumanegara tersebut menegaskan, ”Pasien harus
proaktif, mencari informasi untuk pencegahan salah obat. Yang punya
bayi, misalnya, sebaiknya punya buku data obat.”
Yang pasti, RUM bertujuan untuk melindungi pasien dari pemberian obat
berlebihan, kesalahan pengobatan, atau rendahnya upaya mengobati. ”Pada
intinya, obat adalah racun,” ungkap Wiyarni. Banyak obat, belum tentu tepat.
http://health.kompas.com/read/2013/01/31/08243641/Banyak.Obat.Bisa.Tak.Tepat
Talk Show and Competition 2013
Acara lomba dan talk show yang diselenggarakan oleh Prasekolah Saraswati berlangsung sukses dan meriah.
Banyak peserta lomba yang daftar langsung dilokasi begitu pula dengan peserta talk show. Acara dibuka dengan penampilan dari murid-murid Saraswati yang menampilkan incy wincy spider, drama caterpillar juga penampilan marching band dari SDN Kelapa Dua 04.
Lomba yang diselenggarakan adalah kreasi barang bekas dan menggambar kreatif kategori TK dan SD kelas 1 sampai kelas 3. Acara talk show pun tidak kalah serunya, dengan dihadiri 3 orang pembicara yang sudah berpengalaman dibidangnya masing masing yaitu dr. Wiyarni Pamudi, SpA,IBCLC dokter anak, pengurus ikatan konselor menyusui Indonesia (IKMI) & asosiasi ibu menyusui indonesia (AIMI), Ir. Shoba Dewey Chugani M.Si, (dipl. Montesori) pakar pendidikan anak & founder Saraswati Preschool serta Nia Umar, IBCLC, deputi chairwoman of AIMI. Oiya,,moderatornya Fessy Alwi (presenter Metro TV) Acara ditutup dengan pengumuman lomba, puas banget deh liat hasil karya anak-anak yang sangat kreatif karena lomba ini diadakan juga bertujuan untuk menggali kreatifitas anak.
Acara ini juga di liput oleh harian Kompas lho, yang terbit hari Kamis tanggal 31 Januari 2013, ada di rublik kesehatan halaman 14.
Banyak peserta lomba yang daftar langsung dilokasi begitu pula dengan peserta talk show. Acara dibuka dengan penampilan dari murid-murid Saraswati yang menampilkan incy wincy spider, drama caterpillar juga penampilan marching band dari SDN Kelapa Dua 04.
Lomba yang diselenggarakan adalah kreasi barang bekas dan menggambar kreatif kategori TK dan SD kelas 1 sampai kelas 3. Acara talk show pun tidak kalah serunya, dengan dihadiri 3 orang pembicara yang sudah berpengalaman dibidangnya masing masing yaitu dr. Wiyarni Pamudi, SpA,IBCLC dokter anak, pengurus ikatan konselor menyusui Indonesia (IKMI) & asosiasi ibu menyusui indonesia (AIMI), Ir. Shoba Dewey Chugani M.Si, (dipl. Montesori) pakar pendidikan anak & founder Saraswati Preschool serta Nia Umar, IBCLC, deputi chairwoman of AIMI. Oiya,,moderatornya Fessy Alwi (presenter Metro TV) Acara ditutup dengan pengumuman lomba, puas banget deh liat hasil karya anak-anak yang sangat kreatif karena lomba ini diadakan juga bertujuan untuk menggali kreatifitas anak.
![]() |
artikel di Harian Kompas![]() |
Wednesday, January 30, 2013
Kalo soal berbohong - tidak ada kompromi.
Saat bercerita mengenai ‘the adventures of mousedeer’ by aaron shepard ( Ternyata, cerita ini adalah kumpulan cerita si kancil – dari Indonesia!) Anak-anak sangat konsen mendengarkan bagaimana si kancil menipu si harimau agar tidak dimakan. Selesai cerita teacher menanyakan pada anak-anak bagaimana menurut mereka apakah kancil pintar?
Raia: aku ngga suka sama kancil.
Abigael: Aku sukanya sama caterpillar aja.
Teacher: Abigael di cerita ini tidak ada ‘caterpillar’nya.
Abigael: drama ‘caterpillar’.
Teacher: O, drama ‘caterpillar’. Kalo Raia, kenapa tidak suka sama kancil?
Raia: Dia kan suka bohong!
Panji: Iya, kan kita ngga boleh bohong.
Teacher: tapi dia bohong supaya ngga di makan sama harimau? Terus harusnya bagaimana?
Gian: harusnya dia lari aja.
Teacher: Kalo dia lari dikejar sama harimau. Terus bagaimana?
Ekal: kancil kan bisa ngumpet.
Teacher: Bagaimana teman-teman setuju? Kancil seharusnya sembunyi saja supaya tidak dimakan sama harimau, begitu kata Ekal. Beberapa anak mengangguk setuju.
Wah, ternyata anak-anak saraswati hebat ya! Mereka tidak mau kompromi soal berbohong, dan mereka menemukan cara lain untuk menyelesaikan masalahnya!
Teacher mengatakan bahwa cerita ini akan dibuat menjadi operet. Anak-anak pun kemudian antusias memilih peran yang ingin mereka mainkan masing-masing. Waduuh…Gian dan Ekal keduanya ingin jadi harimau, padahal perannya hanya untuk 1 anak….bagaimana ini teman-teman…dan diskusi pun berlanjut antara anak-anak dan teacher sampai tercapai kesepakatan mengenai peran yang akan dimainkan masing-masing anak.
Raia: aku ngga suka sama kancil.
Abigael: Aku sukanya sama caterpillar aja.
Teacher: Abigael di cerita ini tidak ada ‘caterpillar’nya.
Abigael: drama ‘caterpillar’.
Teacher: O, drama ‘caterpillar’. Kalo Raia, kenapa tidak suka sama kancil?
Raia: Dia kan suka bohong!
Panji: Iya, kan kita ngga boleh bohong.
Teacher: tapi dia bohong supaya ngga di makan sama harimau? Terus harusnya bagaimana?
Gian: harusnya dia lari aja.
Teacher: Kalo dia lari dikejar sama harimau. Terus bagaimana?
Ekal: kancil kan bisa ngumpet.
Teacher: Bagaimana teman-teman setuju? Kancil seharusnya sembunyi saja supaya tidak dimakan sama harimau, begitu kata Ekal. Beberapa anak mengangguk setuju.
Wah, ternyata anak-anak saraswati hebat ya! Mereka tidak mau kompromi soal berbohong, dan mereka menemukan cara lain untuk menyelesaikan masalahnya!
Teacher mengatakan bahwa cerita ini akan dibuat menjadi operet. Anak-anak pun kemudian antusias memilih peran yang ingin mereka mainkan masing-masing. Waduuh…Gian dan Ekal keduanya ingin jadi harimau, padahal perannya hanya untuk 1 anak….bagaimana ini teman-teman…dan diskusi pun berlanjut antara anak-anak dan teacher sampai tercapai kesepakatan mengenai peran yang akan dimainkan masing-masing anak.
Subscribe to:
Posts (Atom)



