(nama anak-anak diganti dengan nama fiktif. Aulia, Anya, Andi, Fendi )
Anak-anak sedang siap-siap untuk kerja dalam kelompok kecil. Tiba-tiba terdengar Aulia berteriak dengan nada tinggi “Biarin, besok aku mau bawa mainan yang mahal, terus aku ngga kasih pinjem kamu” (sambil berjalan ke arah ruang kelompok kerja kecil – small group time.)
Teacher: Aulia, tunggu dulu, jangan masuk ruangan itu dulu. Yuk sini duduk di sini (sambil menarik kursi untuknya). Aulia kenapa berteriak seperti itu?
Aulia: Iya, kan aku lagi pegang kupu itu, kenapa si Anya tarik dari aku. Kan dia harusnya minta ijin dulu.
Teacher: Anya, sini dulu ya, kita selesaikan dulu masalah ini.
Anya (menghampiri meja bundar tempat teacher dan Aulia sedang berdiskusi dan duduk menghadapi teacher dan Anya): Iya, itu kan punya aku! Kenapa Aulia ambil tanpa ijin aku? (Nadanya sangat ketus dan ‘siap perang’)
Aulia: Kan aku dikasih sama Andi! Aku nggak ambil, tahu! (nada sangat tinggi)
Teacher memanggil Andi: Andi, coba kamu bantu dalam menyelesaikan masalah ini. Andi dengan ceria menghampiri meja bundar.
Teacher: Andi, kamu yang kasih kupu itu ke Aulia?
Andi: Iya, tadi aku kasih ke Aulia.
Teacher: Kamu tahu itu punya Anya?
Andi; Tahu.....tapi ada di meja sini.
Teacher: Terus, kenapa kamu kasih ke Aulia, bukan ke Anya?
Andi (dengan wajah yang ceria) tidak menjawab….
Teacher: Disini sebetulnya tidak ada yang salah, tapi ada kesalahpahaman! Teacher mengulangi, ‘kesalahpahaman’. Jadi Aulia tidak salah, Aulia bermain dengan kupu itu karena diberikan oleh Andi. Sehingga waktu Anya menarik kupu itu dari tangannya, Aulia marah. Sama juga, Anya tidak salah. Anya marah melihat kupu yang dimilikinya sedang dimainkan oleh Aulia, padahal Aulia tidak meminta ijin.
Wajar koq kalau Aulia marah, Anya juga marah, karena terjadi kesalahpahaman. Marah sih boleh-boleh saja, tapi jangan keterusan dong! Sekarang coba kita cool down dulu, tenangkan diri..terus saling maafin.
Anya: ENGGAK, AKU NGGA MAU!
Aulia (mendengar nada ketus Anya) emosinya kembali meluap. Ia berdiri berjalan ke ruangan kelompok kerjanya sambil berteriak: Aku besok mau bawa mainan yang bagus, kamu nggak boleh main!
Teacher: Aulia,…balik dulu kesini. Kita selesaikan dulu masalah ini.
Teacher menoleh ke Anya: Anya, kamu mau berteman kembali, saling memaafkan? Kan nggak masuk akal kalau kita kehilangan teman hanya karena magnet kupu ini?
Anya: Itu bukan magnet! itu jepitan korden!
Teacher: O, ok teacher salah, itu jepitan korden yang cantik sekali..tapi kita nggak mau kehilangan teman kan?
Anya: Aku maafin besok aja!
Aulia: Aku juga nggak mau maafin!
Teacher berpkir: Mmmmm…gimana ini ya,……
Lalu teman-teman yang kerja kelompok sudah ada yang selesai dan Fendi menghampiri teacher, Anya dan Aulia.
Fendi: Lama banget diskusinya!
Teacher: Iya Fendi bisa bantu cari solusi, Ini nggak ada yang mau saling maafin…boleh ngga sih kita simpan marah kita lama-lama – sampai besok?
Fendi: Ya, nggak boleh dong! Maaf-maafan sekarang aja!
Teacher : Anya dan Aulia, kalau kita simpan marah atau merasa dendam, itu tidak baik, tahu nggak kenapa? Nanti kitanya sakit.
Aulia: Ya sudah, aku mau maafin, tapi sekarang!
Teacher: Anya, Aulia sudah mau memaafkan, Anya maafkan juga ya?
Anya: Nggak, aku besok aja!
Seorang teacher lainnya berbisik pada teacher bahwa Anya memang membutuhkan waktu yang lama untuk memaafkan temannya (pernah 1 bulan).
Teacher: Masalah ini harus selesai sebelum kita pulang – tidak dibawa pulang. JAdi Kalau Aulia sudah bisa memaafkan sekarang, mungkin Anya butuh waktu sedikit lebih lama. Bagaimana kalau kita ikutan kerja kelompok dulu sekarang. Nanti sebelum pulang, kita saling memaafkan. Kedua anak setuju.
Di ruang kerja kelompok, teacher membimbing mereka berdua secara bergantian. Masalah sementara terlupakan…Selesai kerja kelompok, teacher menanyakan lagi pada Anya
Teacher: Anya… sekarang bagaimana, apakah Anya sudah bisa memaafkan Aulia?
Anya mengangguk-angguk. (Whew…what a relief for teacher!..finally!)
Cepat-cepat teacher memanggil Aulia, dan kedua anak saling memaafkan. Teacher meminta mereka untuk peluk temannya dengan kasih…Kedua anak kemudian melanjutkan kegiatan dengan damai.
Di Saraswati, para teachers benar-benar memperhatikan konflik yang terjadi diantara anak-anak karena konflik sebenarnya merupakan kesempatan belajar yang baik sekali baik bagi murid maupun teachers.
Monday, May 10, 2010
An encounter with a cuddly little boy
Peter is a cuddly little boy
So loveable, you just want to hug him
But why, O, why won’t he respond
Like most children would?
He hovers around amidst the cheer
Of his friends playful act
But interact he does not with his peer
His sounds meaningful only to himself
He is there but really He is not
For in his own world he stays
He is after all so far from home
If it’s the Orion, what’s he doing here
All wrapped up in a case of ADHD?
On the table lay
A picture book of dinosaurs
And rubber models
I put the models close
To the matching pictures
And softly mention ‘T-Rex’
A look of interest
A slight peek at me
He mumbles ‘T-Rex’
Ah.. the first contact made
I turn the page – dino eggs
A plastic egg I put close
I softly mention ‘egg’
He mumbles ‘egg’
He gives me a shy quick look
As if to say, go on and tell me more
For he has to quickly learn
How to communicate
With his little friends
He is, after all, like everyone of us
On a mission. SDC.
So loveable, you just want to hug him
But why, O, why won’t he respond
Like most children would?
He hovers around amidst the cheer
Of his friends playful act
But interact he does not with his peer
His sounds meaningful only to himself
He is there but really He is not
For in his own world he stays
He is after all so far from home
If it’s the Orion, what’s he doing here
All wrapped up in a case of ADHD?
On the table lay
A picture book of dinosaurs
And rubber models
I put the models close
To the matching pictures
And softly mention ‘T-Rex’
A look of interest
A slight peek at me
He mumbles ‘T-Rex’
Ah.. the first contact made
I turn the page – dino eggs
A plastic egg I put close
I softly mention ‘egg’
He mumbles ‘egg’
He gives me a shy quick look
As if to say, go on and tell me more
For he has to quickly learn
How to communicate
With his little friends
He is, after all, like everyone of us
On a mission. SDC.
Kriik,Kriik..Crickets and Problem Solving!
Saat English time, anak-anak mendengarkan cerita, ‘The very quiet cricket’ (Eric Carle). Cerita yang sederhana serta ilustrasinya sangat menarik buat anak-anak. Ceritanya mengenai jangkrik kecil yang baru saja menetas dari telurnya. Si jangkrik kecil berjalan sepanjang hari dan dalam perjalanannya, ia bertemu dengan berbagai serangga lainnya, namun ia tidak bisa menyapa mereka karena belum bisa untuk mengeluarkan bunyi saat menggesekan sayapnya yang masih kecil. Malam tiba, dan si jangkrik bertemu dengan jangkrik (betina), ia mencoba sekali lagi menggesek sayapnya, dan ternyata terdengarlah bunyi yang indah.
Di halaman terakhir ada audio suara jangkrik, tapi audionya sudah rusak. Teacher bertanya pada anak-anak, ‘siapa yang sudah pernah dengar suara jangkrik?’ Anak-anak ada yang sudah dan ada yang belum. Lalu,
Yodha: aku punya jangkrik banyak di rumah, untuk makanan tokek (usaha orang tua yodha)
Gede: Aku juga punya jangkrik
Teacher: kalo gitu besok Yodha dan Gede bawa ya jangkrik ke sekolah, supaya teman-teman juga bisa mendengar suara jangkrik
Keesokan harinya, Yodha dengan antusias menunjukkan jangkrik yang sudah ia bawa. Ada lima jangkrik di dalam botol plastik aqua diantara ranting-ranting kecil. Teman-teman semua mendekati dan memperhatikannya. Berikut adalah diskusi dan problem solving yang terjadi diantara anak-anak:
Anak 1: Kok ngga bunyi?
Anak 2: Kita gelapin dulu. Ini pakai balok aja.
Anak- anak kemudian menyusun balok mengelilingi jangkrik dalam botol.
Anak 3: Kok, belum bunyi juga?
Anak 4: Ini, atasnya kita kasih balok juga supaya lebih gelap.
Teacher: Ssssstttt..coba semuanya diam dan tidak ada suara.
Ruang kelas langsung sunyi senyap, tidak ada satu anak pun yang bersuara, mengantisipasi si jangkrik berbunyi..Beberapa menit kemudian, jangkrik masih belum bunyi juga.
Teacher: Ya sudah, kita letakkan saja disini, dan kita titip ke mba Sarti untuk memperhatikan apakan nanti malam, jangkrik berbunyi.
Keesokan harinya, anak-anak langsung bertanya pada mba Sarti, dan ternyata mba Sarti mendengar bunyi jangkrik. Namun, jangkrik tidak berbunyi lagi pada pagi itu
Anak 5: Kak, kapan sih jangkrik berbunyi?
Teacher tidak yakin namun teacher menjanjikan pada anak-anak bahwa ia akan mencari tahu di internet.
Yodha: Kak, internet itu apa? Teacher menjelaskan bahwa kita bisa mencari informasi apa saja di internet melalui komputer.
Yodha: Berarti internet lebih pinter ya. Kak, aku mau buka internet di komputer
Teacher: Ya, kita rencanakan dulu nanti kakak bawa modemnya ke kelas.
After school, teachers berdiskusi mengenai pertanyaan2 anak-anak…
Teacher: Wah, tadi aku kewalahan juga jelasin ke anak-anak kapan jangkrik bunyi! Kata ibu, jangkrik yang jantan menggesekkan sayapnya dan berbunyi saat ‘mating’ dengan jangkrik betina)…. Jadi mikir dulu gimana cara ngejelasin ‘mating’ ke anak-anak.
Di halaman terakhir ada audio suara jangkrik, tapi audionya sudah rusak. Teacher bertanya pada anak-anak, ‘siapa yang sudah pernah dengar suara jangkrik?’ Anak-anak ada yang sudah dan ada yang belum. Lalu,
Yodha: aku punya jangkrik banyak di rumah, untuk makanan tokek (usaha orang tua yodha)
Gede: Aku juga punya jangkrik
Teacher: kalo gitu besok Yodha dan Gede bawa ya jangkrik ke sekolah, supaya teman-teman juga bisa mendengar suara jangkrik
Keesokan harinya, Yodha dengan antusias menunjukkan jangkrik yang sudah ia bawa. Ada lima jangkrik di dalam botol plastik aqua diantara ranting-ranting kecil. Teman-teman semua mendekati dan memperhatikannya. Berikut adalah diskusi dan problem solving yang terjadi diantara anak-anak:
Anak 1: Kok ngga bunyi?
Anak 2: Kita gelapin dulu. Ini pakai balok aja.
Anak- anak kemudian menyusun balok mengelilingi jangkrik dalam botol.
Anak 3: Kok, belum bunyi juga?
Anak 4: Ini, atasnya kita kasih balok juga supaya lebih gelap.
Teacher: Ssssstttt..coba semuanya diam dan tidak ada suara.
Ruang kelas langsung sunyi senyap, tidak ada satu anak pun yang bersuara, mengantisipasi si jangkrik berbunyi..Beberapa menit kemudian, jangkrik masih belum bunyi juga.
Teacher: Ya sudah, kita letakkan saja disini, dan kita titip ke mba Sarti untuk memperhatikan apakan nanti malam, jangkrik berbunyi.
Keesokan harinya, anak-anak langsung bertanya pada mba Sarti, dan ternyata mba Sarti mendengar bunyi jangkrik. Namun, jangkrik tidak berbunyi lagi pada pagi itu
Anak 5: Kak, kapan sih jangkrik berbunyi?
Teacher tidak yakin namun teacher menjanjikan pada anak-anak bahwa ia akan mencari tahu di internet.
Yodha: Kak, internet itu apa? Teacher menjelaskan bahwa kita bisa mencari informasi apa saja di internet melalui komputer.
Yodha: Berarti internet lebih pinter ya. Kak, aku mau buka internet di komputer
Teacher: Ya, kita rencanakan dulu nanti kakak bawa modemnya ke kelas.
After school, teachers berdiskusi mengenai pertanyaan2 anak-anak…
Teacher: Wah, tadi aku kewalahan juga jelasin ke anak-anak kapan jangkrik bunyi! Kata ibu, jangkrik yang jantan menggesekkan sayapnya dan berbunyi saat ‘mating’ dengan jangkrik betina)…. Jadi mikir dulu gimana cara ngejelasin ‘mating’ ke anak-anak.
Saturday, April 10, 2010
Family Fun Bike
Saturday, 10 April: It's a cheerful morning. Saraswati family is gathering together for a fun bike program at Ancol. More than 30
bikes are neatly parked at the Dufan Bike Post.
Ah.. here comes Keisya, all excited, the first to arrive with mom and dad. Teachers hurriedly drive off to set up the posts while others start arriving.. Still in progress setting up the posts, when herly’s phone rings. …O, more children and parents have arrived, very excited, and they are going straight for the bikes. Alright, let’s hurry then!
Back at ‘base camp’ children are all set to ride with mom, dad or mbak/o
m, the younger ones are securely tied to m
om or dad with sarongs.
Herly briefly explains the activity: find post1, 2 and 3 and then back to base camp, use the given map, and get back within 1 hour. The first five family to reach base camp will get attractive prizes…tickets to Bali?? Ok, GET SET GO!
Back at ‘base camp’ children are all set to ride with mom, dad or mbak/o
Herly briefly explains the activity: find post1, 2 and 3 and then back to base camp, use the given map, and get back within 1 hour. The first five family to reach base camp will get attractive prizes…tickets to Bali?? Ok, GET SET GO!
Post 2, Parents are to make licenses for children and come up with a yell for
Time for beef burgers. Ros distributes the burgers. Meanwhile, Reno's mum sets out her sarong right under a tree shade, and out comes all kinds of snack from spaghetti...hagelslag bread, nuggets...and you name it! Parents enjoy a chit-chat while the children explore Herly's 'TOA'.
A great family time together… anyone care for a family fun walk/jog sometimes?
A great family time together… anyone care for a family fun walk/jog sometimes?
Friday, April 9, 2010
Aku dapat piala..Aku juara
Kemarin, anak-anak PG dan TK mengikuti lomba di TK AlKamal – yang dilombakan termasuk fashion show busana muslim, mewarnai, menggambar, dan bernyanyi bersama.
Pada hari-H, Keisya, yang rencananya ikut lomba menggambar, datang ke sekolah sambil menangis. Wah, tidak biasanya Keisya seperti itu, kenapa dia?
Keisya (sambil menangis): Aku mau pulang aja, nggak mau ikut lomba.
Teacher: Keisya boleh pulang tapi harus ada alasan yang tepat.
Keisya (masih menangis): Aku ngantuk, Kak..mau pulang aja.
Teacher: Ke, aku tahu kamu ngga ngantuk, apa alasan sebenarnya?
Keisya: iya Kak..aku takut. Aku belum selesai warnain lomba (lomba yang dimaksud adalah lomba dari DKI. Biasanya petugas dari DKI ‘ngedrop’ gambar di sekolah yang harus diwarnai oleh anak-anak (TK). Kemudian dikumpulkan lagi pada hari yang sudah ditentukan. Sekolah tidak mau membebankan anak-anak, maka anak-anak biasanya membawa gambar pulang dan mengerjakannya kapan mereka mau. Entah kenapa Keisya menghubungkan lomba DKI tersebut dengan lomba AlKamal)
Teacher : O, lomba yang itu ngga papa…Keisya ngga usah takut . Itu kan bisa dikerjakan nanti setelah kamu pulang, setelah kamu istirahat, saat kamu santai. Sekarang kamu lepaskan mama ya, dan peluk aku.
Teacher berhasil membujuk Keisya.
Popo tiba-tiba panas badannya dan tidak bisa ikut lomba nyanyi bersama. Teacher cepat-cepat mencari ganti karena Popo ditugaskan untuk memimpin gerakan teman-temannya. Untunglah Dinda siap untuk menggantikan peran Popo. Walaupun badannya lemas, Popo tetap ikut menonton teman-temannya (Eh…ada juga yang cuek menguap lebar-lebar di panggung saat bernyanyi bersama….)
Di panggung fashion show, Reno dengan busana yang sangat menarik, naik panggung dengan malu-malu. Selama berjalan di atas panggung, ia menggigit jarinya. Setelah turun, Teacher bertanya, ‘Reno, kenapa gigit jari?’ Reno menjawab,’Kak, Reno sakit gigi.’ (Wah, bisa saja Reno memberikan alasan yang tepat!)
Beda dengan Zila, ia berjalan di atas panggung dan dengan penuh percaya diri memberikan kiss-bye pada penonton maupun juri. Zila mendapat tepukan yang ceria dari semua. Sementara Yoda dipanggung berjalan bagai seorang tentara – luruuus, maju…dan tegas!
Sementara anak-anak yang ikut lomba gambar dan mewarnai heboh kepanasan. Belum juga lomba dimulai, mereka mengajak Kakak pulang, ‘Kak, PANAAAS, pulang yuk!’
Siang hari, Yoda dan Reno berlari-lari masuk ke ruangan Bu Shoba….masing-masing membawa piala yang cukup tinggi, sambil berseru dengan sangat antusias, Bu Shoba, Bu Shoba, lihat Reno dapat piala! Yoda dapat piala! Juara 2…. Wajah mereka begitu ceria dan gembira.
Supaya tidak terdengar oleh Reno dan Yoda, teacher berbisik ke bu Shoba, ’Nyanyi bersama dapat juara ke-2; Untuk menggambar Keisya dapat juara ke-3. Reno dan Yoda yang menerimanya tadi.
SELAMAT pada semua murid Saraswati! Kalian semua adalah juara bagi kakak-kakak karena kalian sudah menunjukkan kebersamaan dan keberanian yang sangat hebat!
Pada hari-H, Keisya, yang rencananya ikut lomba menggambar, datang ke sekolah sambil menangis. Wah, tidak biasanya Keisya seperti itu, kenapa dia?
Keisya (sambil menangis): Aku mau pulang aja, nggak mau ikut lomba.
Teacher: Keisya boleh pulang tapi harus ada alasan yang tepat.
Keisya (masih menangis): Aku ngantuk, Kak..mau pulang aja.
Teacher: Ke, aku tahu kamu ngga ngantuk, apa alasan sebenarnya?
Keisya: iya Kak..aku takut. Aku belum selesai warnain lomba (lomba yang dimaksud adalah lomba dari DKI. Biasanya petugas dari DKI ‘ngedrop’ gambar di sekolah yang harus diwarnai oleh anak-anak (TK). Kemudian dikumpulkan lagi pada hari yang sudah ditentukan. Sekolah tidak mau membebankan anak-anak, maka anak-anak biasanya membawa gambar pulang dan mengerjakannya kapan mereka mau. Entah kenapa Keisya menghubungkan lomba DKI tersebut dengan lomba AlKamal)
Teacher : O, lomba yang itu ngga papa…Keisya ngga usah takut . Itu kan bisa dikerjakan nanti setelah kamu pulang, setelah kamu istirahat, saat kamu santai. Sekarang kamu lepaskan mama ya, dan peluk aku.
Teacher berhasil membujuk Keisya.
Popo tiba-tiba panas badannya dan tidak bisa ikut lomba nyanyi bersama. Teacher cepat-cepat mencari ganti karena Popo ditugaskan untuk memimpin gerakan teman-temannya. Untunglah Dinda siap untuk menggantikan peran Popo. Walaupun badannya lemas, Popo tetap ikut menonton teman-temannya (Eh…ada juga yang cuek menguap lebar-lebar di panggung saat bernyanyi bersama….)
Di panggung fashion show, Reno dengan busana yang sangat menarik, naik panggung dengan malu-malu. Selama berjalan di atas panggung, ia menggigit jarinya. Setelah turun, Teacher bertanya, ‘Reno, kenapa gigit jari?’ Reno menjawab,’Kak, Reno sakit gigi.’ (Wah, bisa saja Reno memberikan alasan yang tepat!)
Beda dengan Zila, ia berjalan di atas panggung dan dengan penuh percaya diri memberikan kiss-bye pada penonton maupun juri. Zila mendapat tepukan yang ceria dari semua. Sementara Yoda dipanggung berjalan bagai seorang tentara – luruuus, maju…dan tegas!
Sementara anak-anak yang ikut lomba gambar dan mewarnai heboh kepanasan. Belum juga lomba dimulai, mereka mengajak Kakak pulang, ‘Kak, PANAAAS, pulang yuk!’
Siang hari, Yoda dan Reno berlari-lari masuk ke ruangan Bu Shoba….masing-masing membawa piala yang cukup tinggi, sambil berseru dengan sangat antusias, Bu Shoba, Bu Shoba, lihat Reno dapat piala! Yoda dapat piala! Juara 2…. Wajah mereka begitu ceria dan gembira.
Supaya tidak terdengar oleh Reno dan Yoda, teacher berbisik ke bu Shoba, ’Nyanyi bersama dapat juara ke-2; Untuk menggambar Keisya dapat juara ke-3. Reno dan Yoda yang menerimanya tadi.
SELAMAT pada semua murid Saraswati! Kalian semua adalah juara bagi kakak-kakak karena kalian sudah menunjukkan kebersamaan dan keberanian yang sangat hebat!
Belajar berbagi dengan adik
Salah satu keuntungan dari adanya ‘mixed-age grouping’ (variasi usia dalam kelas yang sama) seperti di Saraswati, adalah berkembangnya rasa tanggung jawab anak-anak yang lebih tua terhadap adik-adiknya.
Saat tema paskah di kelas beberapa hari yang lalu, anak-anak PG dan TK bergabung dan mencoba menemukan telur-telur yang disembunyikan oleh kakak-kakak. Tampak anak-anak TK dengan cepat menemukan berbagai telur yang disembunyikan . Kakak hanya mengingatkan, ‘beri kesempatan untuk adik PG ya, supaya mereka juga dapat menemukan telurnya.’ Anak-anak TK langsung memberikan respons positif.
Tiana : ….adik PG, ini nih disini masih banyak telurnya! (sambil menunjuk ke pot tanaman)
Popo : iya tuh, disana juga ada (sambil menunjuk ke kastil).
Tiba saatnya untuk menghias telur yang sudah dikumpulkan bersama, dan anak-anak berkata secara serempak, “ Kak, kita berbagi ya!” Dengan penuh suka cita, anak-anak menghias dan melukis 2 telur masing-masing yang kemudian dibawa pulang.
Saat tema paskah di kelas beberapa hari yang lalu, anak-anak PG dan TK bergabung dan mencoba menemukan telur-telur yang disembunyikan oleh kakak-kakak. Tampak anak-anak TK dengan cepat menemukan berbagai telur yang disembunyikan . Kakak hanya mengingatkan, ‘beri kesempatan untuk adik PG ya, supaya mereka juga dapat menemukan telurnya.’ Anak-anak TK langsung memberikan respons positif.
Tiana : ….adik PG, ini nih disini masih banyak telurnya! (sambil menunjuk ke pot tanaman)
Popo : iya tuh, disana juga ada (sambil menunjuk ke kastil).
Tiba saatnya untuk menghias telur yang sudah dikumpulkan bersama, dan anak-anak berkata secara serempak, “ Kak, kita berbagi ya!” Dengan penuh suka cita, anak-anak menghias dan melukis 2 telur masing-masing yang kemudian dibawa pulang.
Gangguan Sensori Integrasi
Jika kita diminta untuk mencoba menggambar bujur sangkar…pasti mudah bukan untuk membuat sisi-sisi bertemu pada titik yang tepat! Sekarang cobalah menggambar bujur sangkar tetapi dengan cara melihat bayangan di cermin. Saat anda mencoba untuk mempertemukan garis sisi ke-4 dan sisi pertama, garis akan meleset dan tidak bertemu pada satu titik. “Nah…itulah contoh seseorang yang mengalami gangguan sensori integrasi”, tutur Bu Ratih Theresia, ahli terapis Sensori Integrasi, yang menyempatkan diri datang ke Saraswati untuk memberikan teachers’ training mengenai gangguan Sensori Integrasi.
Saat kita memegang sebuah pinsil untuk menulis, hal ini terjadi begitu cepat dan otomatis. Kita tidak menyadari bahwa sebenarnya kegiatan yang sederhana itu terdiri dari suatu rangkaian langkah yang kompleks, yang melibatkan panca indera, otak, otot, tulang dan lainnya: ada informasi lewat panca indera penglihatan mengenai posisi dan karakteristik pinsil, yang dikirim ke otak, kemudian informasi balik dari otak ke otot dan tulang di lengan dan tangan untuk melakukan gerakan mengambil pinsil, dan menggerakan otot dan tulang jari-jari untuk menggengam pinsil tersebut.
Nah, seseorang yang mengalami gangguan sensori integrasi kurang memiliki kemampuan untuk mengolah berbagai stimulasi dari panca inderanya. Akibatnya, pesan yang diterima oleh otak pun jadi kacau, dan reaksi yang muncul tidak sesuai dengan reaksi yang seharusnya. Contohnya, seorang anak dengan gangguan sensori integrasi yang diminta untuk meletakkan gelas di meja, meletakkannya di tepi meja, dan gelas jatuh pecah.
Beberapa gejala yang tampak pada anak dengan gangguan sensori integrasi, antara lain:
anak terkesan clumsy; sensitif yang berlebihan terhadap raba, gerakan, penglihatan, suara, atau sebaliknya; aktif yang berlebihan atau sebaliknya; keseimbangan tubuh kurang baik, motorik kasar dan halus kurang baik; kesulitan menggerakan lidah sehingga sulit mengunyah dan menelan makanan;
Beberapa kegiatan untuk melatih anak dengan gangguan sensori integrasi:
Berbagai alat Montessori sangat baik untuk melatih sensitiftas anak terhadap stimulasi panca indera; kegiatan yang membantu anak dalam koordinasi gerakannya seperti memanjat, meremas-remas tekstur yang kenyal seperti playdough, merangkak; kegiatan yang membantu meningkatkan keseimbangan tubuh seperti bermain ayunan, berlari, meloncat, meniti papan titian.
Terima kasih Bu Ratih sudah menambah wawasan untuk guru-guru Saraswati.
Saat kita memegang sebuah pinsil untuk menulis, hal ini terjadi begitu cepat dan otomatis. Kita tidak menyadari bahwa sebenarnya kegiatan yang sederhana itu terdiri dari suatu rangkaian langkah yang kompleks, yang melibatkan panca indera, otak, otot, tulang dan lainnya: ada informasi lewat panca indera penglihatan mengenai posisi dan karakteristik pinsil, yang dikirim ke otak, kemudian informasi balik dari otak ke otot dan tulang di lengan dan tangan untuk melakukan gerakan mengambil pinsil, dan menggerakan otot dan tulang jari-jari untuk menggengam pinsil tersebut.
Nah, seseorang yang mengalami gangguan sensori integrasi kurang memiliki kemampuan untuk mengolah berbagai stimulasi dari panca inderanya. Akibatnya, pesan yang diterima oleh otak pun jadi kacau, dan reaksi yang muncul tidak sesuai dengan reaksi yang seharusnya. Contohnya, seorang anak dengan gangguan sensori integrasi yang diminta untuk meletakkan gelas di meja, meletakkannya di tepi meja, dan gelas jatuh pecah.
Beberapa gejala yang tampak pada anak dengan gangguan sensori integrasi, antara lain:
anak terkesan clumsy; sensitif yang berlebihan terhadap raba, gerakan, penglihatan, suara, atau sebaliknya; aktif yang berlebihan atau sebaliknya; keseimbangan tubuh kurang baik, motorik kasar dan halus kurang baik; kesulitan menggerakan lidah sehingga sulit mengunyah dan menelan makanan;
Beberapa kegiatan untuk melatih anak dengan gangguan sensori integrasi:
Berbagai alat Montessori sangat baik untuk melatih sensitiftas anak terhadap stimulasi panca indera; kegiatan yang membantu anak dalam koordinasi gerakannya seperti memanjat, meremas-remas tekstur yang kenyal seperti playdough, merangkak; kegiatan yang membantu meningkatkan keseimbangan tubuh seperti bermain ayunan, berlari, meloncat, meniti papan titian.
Terima kasih Bu Ratih sudah menambah wawasan untuk guru-guru Saraswati.
Subscribe to:
Posts (Atom)