Sunday, February 1, 2009

Perayaan IMLEK

Dimulai dengan sebuah cerita mengenai perayaan Imlek di negeri Cina. Adakah yang tahu, apa yang dilakukan oleh orang-orang saat merayakan IMLEK.
Vira: ‘Barongsay, aku lihat di Puri.’
Popo: ‘menyalakan petasan’
Sesuai buku cerita, Kak Herly menceritakan kenapa semua bernuansa merah saat Imlek; kenapa orang-orang menyalakan petasan; dan kenapa juga selalu ada lampion.
Teachers kemudian memandu anak-anak dalam kegiatan membuat lampion. Tiba saatnya untuk mengambil angpao dari pohon. Anak-anak yang lain dengan antusias mengambil angpaonya. Tapi tidak demikian dengan Gede. Ia membuang angpaonya. ‘Koq dibuang, Gede, itu kan isinya uang’, seru Fendi. Gede langsung mengambil kembali angpaonya, dan membukanya. “Horreee…’, ia berteriak girang karena melihat ada Rp.1000 di dalamnya.
Sayangnya foto-fotonya tidak bisa dimuat karena format tidak sesuai)

Performance Day Surprise

Performance day dengan tema ‘Sing and Dance’ merupakan acara pertama kita di tahun baru 2009. Panggung meriah sudah disiapkan oleh teachers di kelas TK. Display pekerjaan anak-anak di sekolah sudah ditempel sepanjang dinding kelas, maupun dinding di ruang tunggu dan di dinding luar, sehingga orang tua tidak mungkin melewatkannya. Seusai kata sambutan, musik dimulai. Anak-anak sudah tidak sabar untuk tampil di panggung, dimulai dengan lagu ‘Old Mac Donald’, lalu ‘5 little monkeys’. Wah, tapi suaranya koq pada hilang ya?Ayo, sama-sama semuanya suaranya yang keras, ‘5 little monkeys…’, Kak Herly memandu anak-anak. Perlahan-lahan suara anak-anak pun semakin terdengar…semakin pede, sampai-sampai lupa bahwa mereka sedang ditonton oleh parents. Gede, yang berperan sebagai dokter, menyahut dengan jelas dan suara keras, ‘No more monkeys jumping on the bed’.

Saat tari meong, anak-anak (girls) terlihat sangat kompak, bukan hanya dari gerakannya saja, tetapi melebihi dari gerakan menari adalah perasaan kebersamaan yang telah terjalin di antara mereka. Saat sudah di depan dan musik dimainkan, ternyata Olla tidak mau menari. Sambil menari, Dinda dan teman-teman lainnya terdengar membujuknya, ‘Ayo, Olla, nari, La.’ Tidak ada rasa marah pada teman-teman. Mereka juga tidak mengolok Olla karena ia tidak mau menari. Selanjutnya, saat tari piring, Olla sudah tidak perlu bujukan lagi, ia langsung ikut bergerak bersama dengan teman-teman.

Sementara, Tiana (PG) yang belum pernah ikut eskul menari, berdiri paling depan dan dengan antusias dan bebas menari mengikuti gerakan teman-teman yang lain…

Surprise terakhir adalah Ghia (PG) yang biasanya tidak mau tampil atau bergabung jika terlalu ramai, menyanyikan lagu ’Laskar Pelangi’ (bukan hanya sepotong saja, tapi keseluruhan lagu) ditemani oleh kedua kakaknya yang sudah di SD.

Suasana performance sengaja dibuat akrab dan informal, agar anak-anak tidak ragu untuk mengekspresikan diri mereka melalui gerakan tari dan menyanyi. Ternyata, anak-anak sangat menikmati acara tersebut. Pengalaman positif yang mereka dapatkan, berupa kebersamaan (antara teman/orang tua/teachers), perasaan dihargai (display karya dari setiap anak), kesempatan untuk mengekspresikan diri dengan bebas serta dukungan dari orang tua akan membantu membangun percaya diri mereka.
(sayangnya foto tidak dapat dimuat karena format tidak sesuai)

Sunday, December 21, 2008

Off to the Post Office



Tgl 20 Nopember yang lalu, murid TK A dan TK B berkunjung ke kantor pos kebun Jeruk. Setelah puas bereksplorasi di kantor pos Saraswati (yang di set-up di Dramatic Play Area), selama sebulan penuh, akhirnya, anak-anak bisa mengalami sendiri bagaimana riilnya sebuah kantor pos. Saat sampai di Kantor Pos Kebun Jeruk, Kepala Kantor Pos sudah siap menyambut anak-anak. Beliau kemudian memberikan penjelasan mengenai bagaimana mengirim surat.

Wah, teryata amplop yang dibawa oleh anak-anak bukan amplop standar pengiriman surat. ‘Ini amplop untuk undangan’, kata Kepala Kantor Pos. ‘O, begitu ya pak, kita beli saja amplop dari kantor pos, sekalian postcardnya agar anak-anak bisa menulis ‘surat’ dan mengirimnya’, jawab Kak Herly. Masing-masing anak mendapatkan 1 postcard dan 1 amplop. ‘Bagaimana, kak, nulisnya?’, tanya anak-anak. Teachers kemudian membantu anak-anak menulis pada postcard. Nanda ingin mengirim surat buat mama, dengan tulisan, ‘Aku sayang mama.’ Vira ingin menulis surat buat aunty. Demikian, ditengah kesibukan orang-orang yang datang ke kantor pos, anak-anak belajar menulis kartu pos buat orang-orang yang mereka cintai. ‘Nama Fendi ditulisnya di belakang amplop, di depan alamat dan nama Mama’, teacher memberi tahu Fendi. Gede sudah membawa surat dari rumah, jadi tinggal dipasang perangko.



Selesai menulis surat, waktunya untuk memasang perangko. Tapi harus dibeli dulu. Anak-anak secara bergilir datang ke petugas untuk membeli perangko. Setelah ditempel, perlu dicap dulu. ‘Ayo, bergilir ke tempat bapak untuk dicap suratnya’. Sekarang surat sudah siap dikirim. Terima kasih Kantor Pos Kebun Jeruk.
Komentar mama Nanda, “Kak, kemarin aku terima surat dari Nanda. Aku terharu sekali baca tulisan AKU SAYANG MAMA. Konsep tema kantor pos bagus banget ya, Kak. Kapan-kapan aku ajak Nanda lagi (ke kantor pos).“

Bereksplorasi dengan magnet



Tgl 11 Nopember yang lalu, Ibu Jovita, bunda dari x-murid Saraswati, mengajak murid-murid TK Saraswati bermain dengan magnet. Ibu Jovita berpengalaman sebagai guru Sains dan Kepala Sekolah di salah satu national plus school yang ternama.
‘Anak-anak, ada yang tahu apa itu magnet?’ tanya ibu Jovita.
‘Itu…bisa nempel’, jawab Gede.
’Bisa narik logam’, lanjut Popo.
‘Iya benar, ini ibu bawa berbagai bentuk magnet,’ ibu Jovita memperlihatkan magnet berbentuk U, dan magnet berbentuk balok kecil maupun yang besar. Kemudian anak-anak diberikan kesempatan untuk mencoba sendiri mendekatkan magnet ke berbagai objek (dari kayu, kertas, maupun logam), dan mengobservasi sendiri yang mana bisa menempel, dan yang mana tidak bisa menempel.
‘Kalo kita deketin magnet, pasti tangan kita bukan logam, tapi kalo sendoknya yang dideketin ke magnet, ditarik’, Gede menyimpulkan observasinya.
‘magnet sama magnet bisa nempel’, Keisya berkata. ‘Tapi yang merah sama merah, ngga mau nempel karena aneh’, lanjut Keisya.
‘Bukan aneh’,Ibu Jovita menjelaskan, ‘itu karena magnet punya dua kutub, N artinya north atau utara, dan S artinya south atau selatan. Jika kutub yang sama berdeketan, magnetnya akan menolak, tapi kalau kutub yang berbeda berdeketan, magnetnya menempel.
Setelah anak-anak puas bereksperimen dengan magnet, ibu Jovita membagikan kertas berwarna. 'Kita mau buat ikan dari kertas berwarna ini'. ’Aku mau buat orang aja’, sahut Feli. ’Iya, boleh yang tidak mau buat ikan boleh buat yang lain.’, jawab ibu Yovita. ’Yang sudah selesai bisa minta paper clip dari ibu, klipnya kita pasang pada karya, kemudian kita dekatkan magnet’, lanjut bu Yovita..’wah, ketarik orang nya’...
Demikian kegiatan eksplorasi dengan magnet berlangsung selama 1 jam dengan reaksi yang begitu antusias dari anak-anak. Terima kasih Bu Jovita.

Suasana Perayaan Hari Ibu 6 DES 2008


Performances...



Fun Activities....



It's time to say 'I love you, Mom'




Flowers for the most experienced mother....ibu Kartini
Finally, let's pose for the camera