Saturday, July 26, 2008

Hari Tanpa TV 2008

Prasekolah Saraswati kembali dipercaya oleh YPMA untuk mengkoordinasi acara kegiatan anak sehubungan dengan Hari Tanpa TV (HTT) 2008 di Monas. Kegiatan anak tersebut merupakan satu dari rangkaian kegiatan yang dilaksanakan berkaitan dengan gerakan ‘Hari Tanpa TV’, yang diprakarsai oleh YPMA. Ditengah semaraknya tayangan televisi yang semakin tidak aman bagi anak-anak, gerakan ‘Hari tanpa TV’ tersebut, yang dimulai sejak tahun 2005, bertujuan untuk mengurangi ketergantungan anak-anak dan keluarga pada televisi, serta mengajak keluarga untuk bersikap lebih kritis terhadap acara televisi yang ditonton oleh anak-anak.

‘Hari tanpa TV’ dimaknai sebagai ajakan bagi keluarga-keluarga dengan anak usia playgroup sampai SD, untuk tidak mengkonsumi televisi selama sehari penuh. Ketimbang menonton televisi, mereka bisa menikmati hari Minggu mereka melalui berbagai kegiatan lainnya yang juga menarik. Supaya gerakan ini bisa lebih dari sekedar ajakan dan mencakup partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat, maka diadakan kegiatan anak di tempat umum seperti Monas.

Kegiatan anak HTT 2008, yang diadakan pada hari Minggu pagi, tanggal 20 Juli 2008 di Monas, berlangsung sangat meriah. Acara diikuti oleh sekitar 100 anak dari usia playgroup, TK sampai usia SD dari berbagai sekolah di wilayah Jakarta Barat yang memang diundang, serta anak-anak yang sedang berkunjung ke Monas bersama keluarga.

Tepat sekali, lokasi HTT 08 merupakan lokasi yang memang banyak diminati oleh keluarga dengan anak-anak kecil, sehingga mereka pun ikut berpartisipasi. Pesan-pesan mengenai perlunya sikap kritis orang tua terhadap tayangan televisi yang semakin tidak sehat bagi anak-anak, cukup mengena pada pengunjung. Ajakan-ajakan untuk mematikan televisi selama sehari penuh pada tanggal 20 Juli 2008 tersebut disambut secara positif oleh pengunjung.

Anak-anak pun sangat menikmati berbagai kegiatan yang sudah disiapkan...ada kegiatan membuat stiker, menggambar kartun, mewarnai, reading literacy, games, dan setiap anak mendapatkan hadiah untuk dibawa pulang!

SURPRISE!!!!Kejutan besar saat ibu walikota Jakarta, yang memang sedang berada di Monas, menyempatkan diri untuk berkunjung ke lokasi HTT 08. Dukungan terhadap gerakan HTT, beliau sampaikan melalui pesan-pesan pada anak-anak dan pengunjung untuk mengurangi ketergantungan pada televisi.
Begitu terkesannya dengan acara kita, bahkan ibu walikota memberikan tantangan pada panitia untuk mengadakan acara yang serupa dalam rangka Hari Ibu Desember 2008 yang akan datang..SDC

Friday, July 25, 2008

Penampilan Baru Saraswati Preschool


Welcome back to School..tahun ajaran 2008-2009!

Tahun ajaran yang baru, Saraswati pun ikut berpenampilan baru dan terkesan lebih cerah dan ceria, bukan? Lagipula, sekarang Saraswati ada cafenya, jadi kalau lapar, ya ngga usah jauh-jauh deh cari makan n minum..sehat lagi menunya!

Sementara anak-anak masih berlibur, 2 minggu menjelang masuk sekolah, team Saraswati sudah sibuk bekerja….ada training guru, diskusi mengenai program, menyusun buku penunjang, supervisi perbaikan gedung dan tambahan office serta pengadaan pernak-perniknya seperti meja, kursi, dan lainnya, desain banner yang baru, sampai mencuci semua alat-alat di kelas, dan menyusun kembali layout kelas.



Terima kasih untuk dukungan, masukkan dan perhatian dari orang tua. Kami berharap kerjasama antara Saraswati dan orang tua bisa lebih erat lagi pada tahun ajaran baru ini. SDC

Wednesday, May 28, 2008

Kata-kata yang membuat anak bahagia/kata-kata yang membuat anak sedih

Masih dalam sesi 'living values', Kak Herly membahas mengenai arti kata 'happy/bahagia' dan 'sad/sedih'. Berikut adalah interaksi antara Kak Herly dan anak-anak:
Kak Herly : 'Siapa yang tahu lawan kata dari 'happy'?'
Giscka : No happy, sedih.
Herrel : Nangis.
Kak Herly : Lalu kata-kata apa yang buat kita bahagia?
Herrel : Kak, kata-kata yang sopan, baik. Misalnya, Cici baik, terus Vira baik suka senyum.

Kak Herly : Kata-kata apa yang buat kita sedih?
Herrel : Kak, kata-kata 'dasar kamu...', kata-kata binatang!
Popo: Kata 'bodoh!'
Achie: Kak, mami bilang kalau aku nggak mau mandi nanti ditinggal aja..
Adin : Kak, aku nggak pernah!

Kak Herly lalu melanjutkan dan mengingatkan pada anak-anak untuk tidak menggunakan kata-kata yang membuat mereka sedih, dengan orang lain. Ternyata anak-anak sangat sensitif terhadap kata-kata yang mereka dengar dari teman atau dari lingkungan sekitarnya. Ancaman halus pun bisa membuat mereka sedih. SDC.

Belajar mengenai Kerja Sama

Kak Herly mengajak anak-anak untuk recall..'kemarin saat diskusi mengenai 'living values', apa yang kita lakukan?'. Herrel menjawab, 'membereskan dramatic area.' 'Iya, kemarin kita kerjasama membereskan areal dramatik. Kalau di rumah, pernah kerjasama, nggak?', lanjut Kak Herly.
Adin : pernah sama kakak beresin mainan.
Achie: sama mami, bikin kue.
Popo : sama eyang, bunda bikin donat, bantuin bulet-in, trus aku bantuin bunda nyapu.
Herrel: Aku gak pernah bantuin di rumah, abis Nan (kakaknya) main PS terus, kak Dede nggak mau diajak kerja sama, ya udah aku gak kerja sama.
Vaza: Kak, aku pernah kakak buat tangga dari pasir, terus rubuh, terus dia buat lagi..
Kak Herly: Terus, abang bantuin apa?
Vaza : Aku lihatin aja. Oh, iya ya, itu bukan kerja sama, he...he... tapi aku pernah beresin PS sama kakak.
Vira : Aku pernah beresin rumah, di dapur, cuci piring bantuin mami.
Giscka: Aku bantuin bilas piring sama aunty, aunty yang cuci, aku yang bilas.

Wah, ternyata, anak-anak sudah memahami benar apa artinya kerja sama...SDC

Tuesday, April 22, 2008

Setiap anak mampu untuk berkembang

Setiap hari, kakak-kakak di Saraswati menghadapi anak-anak dengan beragam kepribadian. Ada yang malu-malu dan pendiam, ada yang merasa dirinya kurang, tetapi ada juga yang merasa dirinya lebih baik dari teman-temannya, ada yang tidak mau mengalah, dan lain sebagainya. Apapun karakter anak, kakak siap untuk menerapkan pendekatan yang sesuai bagi masing-masing karakter.

Cerita ini tentang seorang anak yang merasa sangat tidak percaya diri karena suatu kekurangan yang dimilikinya. Ia sengaja memisahkan diri dari teman-temannya baik saat bermain bersama, maupun saat makan bersama. Kak Tri terus berusaha untuk mendekatinya. Saat diajak bicara, si anak tidak menjawab. Saat diajak bermain, si anak tidak mau. Kak Tri sengaja meminjam sesuatu dari si anak, namun tidak diberi. Saat snack time, si anak juga tidak pernah mau membagi.

Namun, Kak Tri tidak pernah putus asa. Sebagai guru, ia merasa bertanggung jawab terhadap anak tersebut, dan karenanya ia terus mencoba. Akhirnya, kesabarannya dan kasihnya terhadap si anak membawa hasil yang menggembirakan. Tepatnya, pada hari Jum’at, tanggal 22 Februari 2008, waktu Kak Tri mengajak si anak menggambar, si anak menunjukkan minatnya dan mau untuk melakukannya. Saat snack time, Kak Tri dengan penuh antisipasi, menanyakan pada anak, ‘Boleh minta pudingnya?’. Si anak berpikir sejenak,’hmm.., boleh deh!’
Saat mau pulang, si anak untuk pertama kalinya, mengatakan, ‘bye’ pada Kak Tri. Sekarang si anak sudah mau aktif dalam kegiatan kelas, bahkan juga saat circle time bersama anak-anak TK.

Setiap anak mampu untuk berkembang. Hanya butuh kesabaran dan pendekatan yang tepat bagi setiap anak. Jika kita memandang anak dengan kacamata positif, maka hasilnya pun akan positif. SDC.

Kreatif dalam mendisiplin anak

Mendisiplin anak tidak perlu dengan cara berteriak atau marah-marah. Dengan sedikit kreatifitas dari kita, anak-anak bisa juga mengikuti peraturan, begitulah yang dialami oleh Kak Nana, Kak Helen, dan Kak Anna.
Anak-anak sedang berselisih saling rebutan balok di PG, padahal waktu bermain sudah selesai. Kakak-kakak mengumumkan bahwa waktu utnuk membereskan semua baloknya. Perselisihan terlupakan dan anak-anak sibuk bermain lagi. Melihat anak-anak masih asyik bermain, Kakak-kakak memberikan tambahan waktu 15 menit lagi. Eh, ternyata sesudah 15 menit, anak-anak tidak juga mau membereskan mainannya. Bagaimana ya caranya…? Kak Nana punya ide! Ia membunyikan alarm di hp selulernya pertanda waktu bermain sudah selesai. Ajaib…anak-anak berhenti bermain dan mulai merapikan mainannya.
Hmmm… begitulah, kita pun harus kreatif mencari solusi dalam mendisiplinkan anak. SDC

Saling peduli.

Selama ini, fokus di Saraswati adalah guru memperhatikan murid-muridnya satu per satu. Ternyata tanpa disadari, anak-anak juga sangat perhatian terhadap guru-gurunya..
Kak Yanty pernah tidak masuk karena sakit. Keesokan harinya, Vira bertanya pad Kak Yanty, ‘Kakak, kemarin ngga masuk karena sakit, ya? Kak Yanty menjawab, ‘ Iya, kemarin kakak sakit.’ Kemudian Vira berkata, ‘ Kak, jangan sakit lagi ya, jangan ngga masuk lagi ya, kalau kakak sakit, kasih tahu Vira, ya.’

Kak Helen juga punya pengalaman yang mirip. Waktu itu, Popo baru bergabung di TKA, dan masih belum berani untuk bermain dengan teman-temannya yang sudah lama di Saraswati. Kak Helen menemani Popo dan bermain dengannya. Beberapa hari kemudian, saat sedang makan bersama, Popo ingin duduk sebelah Kak Helen. Ia meminta Kak Helen untuk membukakan lunch boxnya. Ketika Kak Helen membukakannya, Popo mencium pipi Helen, ungkapan rasa kasih sayang kepada kakaknya yang begitu perhatian pada dirinya.

Saling peduli, dan saling menyayangi.. begitulah hubungan antara guru dan murid di Saraswati. SDC.