Kak Herly mengajak anak-anak untuk recall..'kemarin saat diskusi mengenai 'living values', apa yang kita lakukan?'. Herrel menjawab, 'membereskan dramatic area.' 'Iya, kemarin kita kerjasama membereskan areal dramatik. Kalau di rumah, pernah kerjasama, nggak?', lanjut Kak Herly.
Adin : pernah sama kakak beresin mainan.
Achie: sama mami, bikin kue.
Popo : sama eyang, bunda bikin donat, bantuin bulet-in, trus aku bantuin bunda nyapu.
Herrel: Aku gak pernah bantuin di rumah, abis Nan (kakaknya) main PS terus, kak Dede nggak mau diajak kerja sama, ya udah aku gak kerja sama.
Vaza: Kak, aku pernah kakak buat tangga dari pasir, terus rubuh, terus dia buat lagi..
Kak Herly: Terus, abang bantuin apa?
Vaza : Aku lihatin aja. Oh, iya ya, itu bukan kerja sama, he...he... tapi aku pernah beresin PS sama kakak.
Vira : Aku pernah beresin rumah, di dapur, cuci piring bantuin mami.
Giscka: Aku bantuin bilas piring sama aunty, aunty yang cuci, aku yang bilas.
Wah, ternyata, anak-anak sudah memahami benar apa artinya kerja sama...SDC
Wednesday, May 28, 2008
Tuesday, April 22, 2008
Setiap anak mampu untuk berkembang
Setiap hari, kakak-kakak di Saraswati menghadapi anak-anak dengan beragam kepribadian. Ada yang malu-malu dan pendiam, ada yang merasa dirinya kurang, tetapi ada juga yang merasa dirinya lebih baik dari teman-temannya, ada yang tidak mau mengalah, dan lain sebagainya. Apapun karakter anak, kakak siap untuk menerapkan pendekatan yang sesuai bagi masing-masing karakter.
Cerita ini tentang seorang anak yang merasa sangat tidak percaya diri karena suatu kekurangan yang dimilikinya. Ia sengaja memisahkan diri dari teman-temannya baik saat bermain bersama, maupun saat makan bersama. Kak Tri terus berusaha untuk mendekatinya. Saat diajak bicara, si anak tidak menjawab. Saat diajak bermain, si anak tidak mau. Kak Tri sengaja meminjam sesuatu dari si anak, namun tidak diberi. Saat snack time, si anak juga tidak pernah mau membagi.
Namun, Kak Tri tidak pernah putus asa. Sebagai guru, ia merasa bertanggung jawab terhadap anak tersebut, dan karenanya ia terus mencoba. Akhirnya, kesabarannya dan kasihnya terhadap si anak membawa hasil yang menggembirakan. Tepatnya, pada hari Jum’at, tanggal 22 Februari 2008, waktu Kak Tri mengajak si anak menggambar, si anak menunjukkan minatnya dan mau untuk melakukannya. Saat snack time, Kak Tri dengan penuh antisipasi, menanyakan pada anak, ‘Boleh minta pudingnya?’. Si anak berpikir sejenak,’hmm.., boleh deh!’
Saat mau pulang, si anak untuk pertama kalinya, mengatakan, ‘bye’ pada Kak Tri. Sekarang si anak sudah mau aktif dalam kegiatan kelas, bahkan juga saat circle time bersama anak-anak TK.
Setiap anak mampu untuk berkembang. Hanya butuh kesabaran dan pendekatan yang tepat bagi setiap anak. Jika kita memandang anak dengan kacamata positif, maka hasilnya pun akan positif. SDC.
Cerita ini tentang seorang anak yang merasa sangat tidak percaya diri karena suatu kekurangan yang dimilikinya. Ia sengaja memisahkan diri dari teman-temannya baik saat bermain bersama, maupun saat makan bersama. Kak Tri terus berusaha untuk mendekatinya. Saat diajak bicara, si anak tidak menjawab. Saat diajak bermain, si anak tidak mau. Kak Tri sengaja meminjam sesuatu dari si anak, namun tidak diberi. Saat snack time, si anak juga tidak pernah mau membagi.
Namun, Kak Tri tidak pernah putus asa. Sebagai guru, ia merasa bertanggung jawab terhadap anak tersebut, dan karenanya ia terus mencoba. Akhirnya, kesabarannya dan kasihnya terhadap si anak membawa hasil yang menggembirakan. Tepatnya, pada hari Jum’at, tanggal 22 Februari 2008, waktu Kak Tri mengajak si anak menggambar, si anak menunjukkan minatnya dan mau untuk melakukannya. Saat snack time, Kak Tri dengan penuh antisipasi, menanyakan pada anak, ‘Boleh minta pudingnya?’. Si anak berpikir sejenak,’hmm.., boleh deh!’
Saat mau pulang, si anak untuk pertama kalinya, mengatakan, ‘bye’ pada Kak Tri. Sekarang si anak sudah mau aktif dalam kegiatan kelas, bahkan juga saat circle time bersama anak-anak TK.
Setiap anak mampu untuk berkembang. Hanya butuh kesabaran dan pendekatan yang tepat bagi setiap anak. Jika kita memandang anak dengan kacamata positif, maka hasilnya pun akan positif. SDC.
Kreatif dalam mendisiplin anak
Mendisiplin anak tidak perlu dengan cara berteriak atau marah-marah. Dengan sedikit kreatifitas dari kita, anak-anak bisa juga mengikuti peraturan, begitulah yang dialami oleh Kak Nana, Kak Helen, dan Kak Anna.
Anak-anak sedang berselisih saling rebutan balok di PG, padahal waktu bermain sudah selesai. Kakak-kakak mengumumkan bahwa waktu utnuk membereskan semua baloknya. Perselisihan terlupakan dan anak-anak sibuk bermain lagi. Melihat anak-anak masih asyik bermain, Kakak-kakak memberikan tambahan waktu 15 menit lagi. Eh, ternyata sesudah 15 menit, anak-anak tidak juga mau membereskan mainannya. Bagaimana ya caranya…? Kak Nana punya ide! Ia membunyikan alarm di hp selulernya pertanda waktu bermain sudah selesai. Ajaib…anak-anak berhenti bermain dan mulai merapikan mainannya.
Hmmm… begitulah, kita pun harus kreatif mencari solusi dalam mendisiplinkan anak. SDC
Anak-anak sedang berselisih saling rebutan balok di PG, padahal waktu bermain sudah selesai. Kakak-kakak mengumumkan bahwa waktu utnuk membereskan semua baloknya. Perselisihan terlupakan dan anak-anak sibuk bermain lagi. Melihat anak-anak masih asyik bermain, Kakak-kakak memberikan tambahan waktu 15 menit lagi. Eh, ternyata sesudah 15 menit, anak-anak tidak juga mau membereskan mainannya. Bagaimana ya caranya…? Kak Nana punya ide! Ia membunyikan alarm di hp selulernya pertanda waktu bermain sudah selesai. Ajaib…anak-anak berhenti bermain dan mulai merapikan mainannya.
Hmmm… begitulah, kita pun harus kreatif mencari solusi dalam mendisiplinkan anak. SDC
Saling peduli.
Selama ini, fokus di Saraswati adalah guru memperhatikan murid-muridnya satu per satu. Ternyata tanpa disadari, anak-anak juga sangat perhatian terhadap guru-gurunya..
Kak Yanty pernah tidak masuk karena sakit. Keesokan harinya, Vira bertanya pad Kak Yanty, ‘Kakak, kemarin ngga masuk karena sakit, ya? Kak Yanty menjawab, ‘ Iya, kemarin kakak sakit.’ Kemudian Vira berkata, ‘ Kak, jangan sakit lagi ya, jangan ngga masuk lagi ya, kalau kakak sakit, kasih tahu Vira, ya.’
Kak Helen juga punya pengalaman yang mirip. Waktu itu, Popo baru bergabung di TKA, dan masih belum berani untuk bermain dengan teman-temannya yang sudah lama di Saraswati. Kak Helen menemani Popo dan bermain dengannya. Beberapa hari kemudian, saat sedang makan bersama, Popo ingin duduk sebelah Kak Helen. Ia meminta Kak Helen untuk membukakan lunch boxnya. Ketika Kak Helen membukakannya, Popo mencium pipi Helen, ungkapan rasa kasih sayang kepada kakaknya yang begitu perhatian pada dirinya.
Saling peduli, dan saling menyayangi.. begitulah hubungan antara guru dan murid di Saraswati. SDC.
Kak Yanty pernah tidak masuk karena sakit. Keesokan harinya, Vira bertanya pad Kak Yanty, ‘Kakak, kemarin ngga masuk karena sakit, ya? Kak Yanty menjawab, ‘ Iya, kemarin kakak sakit.’ Kemudian Vira berkata, ‘ Kak, jangan sakit lagi ya, jangan ngga masuk lagi ya, kalau kakak sakit, kasih tahu Vira, ya.’
Kak Helen juga punya pengalaman yang mirip. Waktu itu, Popo baru bergabung di TKA, dan masih belum berani untuk bermain dengan teman-temannya yang sudah lama di Saraswati. Kak Helen menemani Popo dan bermain dengannya. Beberapa hari kemudian, saat sedang makan bersama, Popo ingin duduk sebelah Kak Helen. Ia meminta Kak Helen untuk membukakan lunch boxnya. Ketika Kak Helen membukakannya, Popo mencium pipi Helen, ungkapan rasa kasih sayang kepada kakaknya yang begitu perhatian pada dirinya.
Saling peduli, dan saling menyayangi.. begitulah hubungan antara guru dan murid di Saraswati. SDC.
Monday, March 17, 2008
Jika KONFLIK menjadi LEARNING ACTIVITY
Di Saraswati, konflik pun bisa menjadi kesempatan belajar bagi anak….Herrel dan Giscka terdengar sedang berdebat di areal balok. Dalam beberapa detik, debatnya semakin sengit. Saya mencoba memahami apa yang sedang diperdebatkan. O, ternyata anak-anak TK sedang ’membangun’ sebuah rumah bersama. Herrel dan Giscka ingin menggunakan tempat yang sama untuk membangun kamarnya.

’Mungkin kalau kita planning dulu, kita gambar, masing-masing ingin kamarnya dimana, kita tidak perlu berdebat’, saya katakan pada mereka. ‘Tapi aku ga bisa gambar rumah’, jawab Giscka. Kak Herly kemudian mengambilkan whiteboard dan marker dan meletakkannya di salah satu sudut areal balok. ‘Ayo, kita coba sama-sama. Siapa yang mau gambar duluan?’, saya mengajak anak-anak. Achie menghampiri dan mengambil marker dari saya. Ia kemudian mulai menggambar sebuah rumah. ’Ini sih bukan gambar dalamnya rumah’, Giscka berkomentar saat Achie sedang asyik menggambar. ’Ssst, biarkan Achie selesai dulu’, saya meminta Giscka untuk bersabar. Saya mengatakan pada anak-anak,’ Achie menggambar tampak depan dari rumah, lihat di depan rumah ada pohon, ada jalan ...’

Giscka sudah tidak sabar lagi dan saya memberikan marker padanya. Ia menggambar layout rumah, kemudian anak-anak bergilir menggambarkan kamarnya masing-masing pada layout rumah dan mencantumkan namanya pada gambar masing-masing.
Selesai menggambar, anak-anak kemudian mencoba untuk mencocokkan letak bangunan masing-masing dengan gambar yang mereka buat, lengkap dengan 'tempat main PS'.

Ternyata, apa yang awalnya sebuah konflik, bisa menjadi learning activity yang asyik bagi anak-anak. Mereka belajar mengenai maksud dan manfaat kegiatan ‘planning’, mereka juga belajar membuat denah tanpa campur tangan orang dewasa, dan kemudian mengaplikasikan denah tersebut pada ‘bangunan rumah’ mereka. Wow! Calon arsitek kita... Memang anak-anak kita ini sangat berbakat dan kreatif ! SDC
Saturday, February 9, 2008
BERPETUALANG DI HUTAN KOTA SRENGSENG
‘Wah, lihat itu banyak sekali kodoknya!’ ajak si pemandu.
‘Iih, kodoknya melompat’, seru Giscka. ‘Itu, ada yang ngumpet di lubang
tanah’, lanjut Giscka. ‘Mana kodoknya, Olla ga lihat?'
’Dari sini, La, itu ada di lubang, lihat kan?', Giscka menunjukkan ke Olla. 'Warnanya bukan hijau, warnanya apa La?’ . Olla merenung dan tidak menjawab. ’Warnanya coklat karena itu kodok hutan’, Giscka (TKB) berkata pada adik kelasnya yang masih duduk di Playgroup.
Ternyata proses belajar berlangsung dengan begitu alamiah. Binatang apa lagi yang mereka temukan selama trekking di hutan?
’Lihat itu ada capung, aku mau tangkap capungnya, tapi aku takut sama ulat’ seru Shazma. Saat sampai di tepi danau, Adam bertanya,’ Kak, buayanya ada ga?’. ’Aku ngga takut lagi masuk ke hutan’, kata Nanda, yang sebelumnya sangat khawatir untuk ikut masuk hutan.
Setelah trekking selesai, berbagai pos kegiatan edukatif sudah siap untuk melayani anak-anak. Ada pos daur ulang non-kertas, pos mewarnai, pos found material dan yang paling kreatif adalah pos sains dengan simulasi banjir dan simulasi volkano, yang disiapkan oleh Prasekolah Saraswati.
Kak Tri dari Saraswati memulai demo simulasi banjir dengan menjelaskan dan memperlihatkan pada anak-anak bahwa air mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang rendah, sambil menuangkan ai
r ke pipa pralon yang telah disusun untuk menyerupai aliran sungai. ’Sekarang, kita lihat aliran air jika tidak ada kotoran atau sampah, apa yang terjadi, anak-anak?’ ’Airnya jalannya cepat, ya,’ seru Vaza. ’Bagus, ya.’ Lanjut Keke. ‘Tapi apa yang terjadi jika ada sampah pada aliran sungai ini?’, lanjut kak Tri, sambil meletakkan segumpal plastik pada pipa pralon. ’Airnya ga bisa jalan, jadi banjir, kak’, seru salah seorang anak, melihat air mulai mengalir dari samping pipa jatuh ke areal ’pemukiman’. ’Aku ga pernah buang
sampah di kali, kak’, seorang anak berkata setelah melihat simulasi tersebut.
Berikutnya, simulasi volkano. Kak
Helen dari Saraswati menjelaskan, ‘Ini contoh gunung merapi, jika gunungnya meletus lalu keluar lava panas’….sambil menunjuk pada ’lava’ yang keluar dari model gunung yang dibuat dari pasir. Beberapa anak berseru, ’Kak, aku pernah lihat di TV, di koran juga.’
Kemudian, Giscka dari TK B Saraswati me
njelaskan mengenai pemanasan global….’Teman-teman, aku mau menjelaskan mengenai pemanasan global…artinya bumi kita makin panas…..’sambil menunjuk ke poster.
Ada juga games yang seru…anak-anak berlomba memilah sampah kering dan sampah basah. Sebelum acara ditutup, ada pembagian hadiah. Semua anak mendapatkan hadiah. Dengan wajah yang berseri-seri, anak-anak pun siap untuk pulang. Ternyata belajar di alam terbuka bersama teman-teman di luar sekolah sungguh menyenangkan!

Demikian, acara ’Berpetualang di Hutan Kota’, yang telah dirancang dan dikoordinasi oleh Kepala Sekolah Prasekolah Saraswati, Ir. Shoba Chugani, M.Si, didukung oleh Kasi Diknas wilayah Jakarta Barat, Bpk Sutarto, serta empat sekolah lainnya di bawah pengawasan Diknas wilayah VI Jakarta Barat, bermaksud untuk meningkatkan rasa peduli anak terhadap alam dan lingkungan.
Setelah trekking selesai, berbagai pos kegiatan edukatif sudah siap untuk melayani anak-anak. Ada pos daur ulang non-kertas, pos mewarnai, pos found material dan yang paling kreatif adalah pos sains dengan simulasi banjir dan simulasi volkano, yang disiapkan oleh Prasekolah Saraswati.
Kak Tri dari Saraswati memulai demo simulasi banjir dengan menjelaskan dan memperlihatkan pada anak-anak bahwa air mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang rendah, sambil menuangkan ai
Berikutnya, simulasi volkano. Kak
Kemudian, Giscka dari TK B Saraswati me
Ada juga games yang seru…anak-anak berlomba memilah sampah kering dan sampah basah. Sebelum acara ditutup, ada pembagian hadiah. Semua anak mendapatkan hadiah. Dengan wajah yang berseri-seri, anak-anak pun siap untuk pulang. Ternyata belajar di alam terbuka bersama teman-teman di luar sekolah sungguh menyenangkan!
Demikian, acara ’Berpetualang di Hutan Kota’, yang telah dirancang dan dikoordinasi oleh Kepala Sekolah Prasekolah Saraswati, Ir. Shoba Chugani, M.Si, didukung oleh Kasi Diknas wilayah Jakarta Barat, Bpk Sutarto, serta empat sekolah lainnya di bawah pengawasan Diknas wilayah VI Jakarta Barat, bermaksud untuk meningkatkan rasa peduli anak terhadap alam dan lingkungan.
Subscribe to:
Comments (Atom)


