Saturday, December 19, 2009

Kegiatan Piknik di PG

Piknik di backyard untuk anak-anak PG (bulan november lalu..sorry posting terlambat karena agak sulit masuk blog) ternyata berubah menjadi indoor picnic karena hujan. Namun demikian, anak-anak tetap enjoy, menyanyi bersama, membuat gedung papa dan mama, dilanjutkan dengan membuat snack, seperti terlihat dalam foto-foto berikut....anak-anak senang sekali apalagi mereka bisa bawa pulang pudding buah dan fruity milk yang mereka buat sendiri.

Ada apa dengan Boss?

Saat latihan untuk performance parents’ day, anak-anak harus bergilir dan yang belum latihan diharuskan duduk di kursi yang sudah tersedia. Kak Tri memperhatikan girls saat menunggu giliran. Mereka duduk berjejer dengan memangku satu kaki…mmmmm mungkin meniru para teachers saat foto bersama. Salah satu dari girls berkata, ‘Kalo boss duduknya seperti kita ini’. Anak-anak lainnya menyetujui, ada yang mengangguk, ada yang mengulang, ‘Iya, aku mau jadi boss’.

Gede (memperhatikan girls): Kak, aku ngga mau jadi boss’ (Gede bisa dikatakan ilmuwan kita dan ia berangan-angan menjadi dokter hewan…..mungkin yang ada dipikirannya adalah ia tidak mau jadi boss karena ia mau jadi dokter hewan)
Salah satu dari girls : Ya udah Gede, kalo kamu ngga mau jadi boss, kamu jadi pembantu aja!
Gede terlihat bingung dan diam saja.

Tidak lama kemudian, yoda, popo, raga dan putra berlari-lari.
Kakak : Kalo boss itu mencontohkan yang baik, kalau bossnya saja berlari-lari, nanti gimana dong?
Anak-anak : O, gitu ya Kak?
Lalu mereka duduk lagi sambil bergaya duduk seperti boss.

Parents’ Day – Mengenal Seni & Budaya Indonesia


Sesuai dengan tema, semua yang hadir pada acara Parents’ Day hari Sabtu, tgl 21 Nop 2009, mengenakan baju batik. Para orang tua terlihat semakin kompak dalam menyusun dan membawa acara. Circle Time dipandu oleh Bu Anna (Mama Fay), ia bercerita mengenai asal usul Tari Pendet. Ngomong-ngomong mengenai tari pendet, eh ternyata ada juga yang terinspirasi – Tiana maju ke depan panggung dan segera menunjukkan gaya dance Michael Jackson.


Mama Rean kemudian memperagakan gerakan tari Saman. Anak-anak mencoba untuk meniru..wah ternyata tidak mudah ya! Selesai dipandu oleh orang tua, tiba waktunya untuk pertunjukkan dari anak-anak - nyanyian ‘Dampar-dampar Pisang’ oleh PG, dan ‘tarian yamko/tarian gundul-gundul’ pacul oleh TK. Performance terakhir adalah main angklung ‘cublak cublak suweng’ oleh TK dipandu oleh Mama Dinda (Ketua Komite).

Wah, sudah pada lapar! Anak-anak membuat tumpengnya masing-masing. ‘Jangan dimakan dulu! Doa dulu dan potong tumpeng oleh Kak Herly. Acara yang menyenangkan..Terimakasih untuk semua orang tua atas partisipasinya.

Tuesday, November 10, 2009

We are going camping now

We’re going camping now…
We’re going camping now
Hi Ho .. So much fun
We are going camping now.

Begitulah lagu yang mengawali acara camping di sekolah yang diselenggarakan khususnya untuk anak-anak TKA dan TKB hari Jumat lalu tgl 6 Nopember 09. Acara seharusnya dimulai jam 5 sore, namun anak-anak sudah berkumpul sekitar jam 4an. Rupanya anak-anak sudah sangat excited untuk camping di sekolah, apalagi paginya mereka diliburkan.

Bernyanyi sambil berjalan membentuk lingkaran….Terdengar tawa yang sangat ceria saat lingkaran berantakan setiap kali ada panduan untuk balik arah. Wah, lelah juga setelah 5 menit bolak balik – Saat untuk istirahat sejenak….. dengan mendengarkan cerita ‘The runaway bunny’.

Saat dibacakan buku ‘The runaway bunny’, ada juga yang jadi ingat mama di rumah, karena pada akhir cerita baby bunny dipeluk oleh mama bunny. Sebelum suasana hati anak-anak berubah, Kakak Gita membawa masuk ‘Summer’ dan ‘Winter’, kelinci-kelinci lucu milik Kakak Erin. Mama di rumah terlupakan dan anak-anak memperhatikan gerak gerik Summer dan Winter sambil mendengarkan cerita mengenai kebiasaan kedua kelinci tersebut. ‘Kelinci adalah hewan yang sangat mudah takut, biasanya kalau takut ia akan gemetaran, dan bisa juga mati. Jadi kita harus hati-hati’ Ruangan langsung menjadi sunyi dan anak-anak tidak ada yang bersuara. Beberapa anak mendapatkan kesempatan untuk mengelus Summer.

Acara dilanjutkan dengan nonton bersama. Gede sudah membawa film tentang ikan hiu. Sementara anak-anak menonton, teachers mencoba menyalakan kayu bakar untuk memasak. Belum juga berhasil, lalu byuuuurrrr…tiba-tiba hujan deras! ‘O..O cepat pindahkan, kayu bakarnya nanti basah!’ Teachers kembali mencoba menyalakan api. Belum lagi berhasil, ‘Kak, aku lapar’…
‘Wah, anak-anak sudah lapar, digoreng saja sebagian ayamnya paling tidak anak-anak bisa makan dulu’.

Kak Fida dan Kak Tri lari ke dapur dan mulai menggoreng ayam, sementara Kak Wanti dan Kak Ros mencoba menyalakan arang untuk bakar ikan. Kayu bakar sudah berhasil dinyalakan dan Bu Shoba memasak hot chocolate, sedangkan Kak Herly dan Kak Helen supervisi anak-anak yang bermain di tenda maupun di ruangan kelas. Mba Sarti hilir mudik membantu kakak-kakak.

Sambil anak-anak menyantap ayam goreng dan meminum hot chocolate, Kak Wanti dan Kak Ros akhirnya berhasil menyalakan arang. Tidak lama kemudian, jagung bakar, ikan bakar dan ayam bakar pun sudah tersedia untuk dimakan.

Jam 9 malam, lights out. Anak-anak mempersiapkan diri untuk tidur. Acara direncanakan selesai pada jam 10 malam, namun sekitar 5 anak tidak mau pulang. Lanjut terus deh sampai pagi ‘nginep’ di sekolah bersama Kak Herly, Kak Ros, Kak Helen, dan mba Sarti. Keesokan harinya, mba Sarti memasak nasi goreng untuk anak-anak. Eh, ternyata anak-anak belum puas juga. Saat dijemput jam 10 pagi, Putra justru menangis tidak mau pulang. Hmmmm…bagaimana lagi ya, Kak Herly harus berpikir keras. ‘Ok, kita pesan Tony Jack deh (dengan persetujuan orang tua) tetapi sehabis itu semuanya pulang ya’, begitu nego Kak Herly dengan anak-anak.

LET'S COOK

Sesuai dengan tema 'eat healthy food' di kelas, untuk kegiatan cooking class kali ini, anak-anak memasak perkedel isi wortel dan ayam. Seperti biasa kalau sudah soal memasak, Kak Tri yang memimpin. Apa saja sih bahan untuk membuat perkedel? Kak Tri menunjukkan berbagai bahan yang didisplay di meja ke anak-anak. Setelah penjelasan, anak-anak langsung praktek.


Dinda, Popo, Yoda, Najwa, Putra dan Nadia sedang
menumbuk kentang (foto kiri)




Insan dan Davina memotong wortel (kanan)




Rayya mencampurkan wortel kedalam adonan kentang



Setelah adonan kentang dicampur dengan wortel dan suwiran ayam, tiba saatnya untuk membentuk adonan. Fay tidak mau membentuk. Caca dan Zila memilih membentuk dengan cetakan. Olla, Aril dan Keisya membentuk menjadi bulat sesuai perkedel umumnya. Gia sedang berpikir bentuk apa yang diinginkannya.








Yummy, Patrick mencicipi adonan sebelum digoreng.

Selesai sudah digoreng. Ada perkedel bentuk bulat, pipih, bentuk hati, bentuk bunga dan pohon cemara. Apapun bentuknya, ternyata rasanya enak. Anak-anak pun makan dengan lahap, kecuali Fay. Fay tetap tidak mau.

Sunday, October 25, 2009

Lots of fun at Bella Campa

'Ini kapuk, yang dipakai di dalam bantal', jelas pemandu Bella Campa kepada anak-anak. 'Coba pegang..halus kan?'



Membuat kincir angin dari bambu




Memperhatikan tanaman 'putri malu'







membajak sawah

bermain lumpur mencari keong sawah




mencabut ubi


foto-foto selanjtunya saat outbound dan berenang menyusul dari Bu Meta (mama Putra).

Wednesday, October 14, 2009

Kenapa Ayah dan Bunda Berdebat?

Sebagai orang dewasa, sangat alamiah jika sekali-kali kita berdebat dan marah dengan pasangan. Lalu bagaimana sebenarnya anak menyikapi kenyataan bahwa ayah dan bunda sedang marahan?! ‘Jika ayah dan bunda berdebat’ menjadi topik diskusi di kelas saat circle time.
Reaksi anak saat melihat dan mendengar orang tua berdebat (apalagi debat sengit) umumnya: anak merasa bahwa ialahyang menimbulkan perdebatan; anak merasa takut bahwa ayah dan bunda tidak sayang lagi pada dirinya; Anak juga merasa bingung karena ia ingin sekali menghentikan tetapi ia tidak berdaya.

Teachers merasa bahwa hal ini perlu dijelaskan pada anak-anak, agar anak tidak terganggu dalam pertumbuhan emosionalnya.

Teacher: Hari ini, kita mau diskusi tentang ‘ ayah dan bunda berdebat’. Anak-anak secara spontan memberikan respons..
Anak 1 : Iya Kak, Kemarin ayah dan bunda berantem, teriak-teriak!
Anak 2: Ayah dan Bunda ku juga, Kak (dengan mata berkaca-kaca). Tapi Ayah dan Bunda peluk aku.

Teacher menjelaskan pada anak-anak bahwa debat antara orang dewasa itu hal yang mungkin saja terjadi, sama seperti saat anak-anak berbeda pendapat, lagi main balok atau main di dramatic area, ada yang marah dengan temannya. Teacher menekankan bahwa walaupun ayah dan bunda sedang marahan, mereka tetap sayang sama anak-anak.
Teacher kepada anak ke 2: Terus kenapa kamu menangis?Ayah dan bunda memelukmu… mereka tetap sayang sama kamu.
Anak 2: Aku ngga bisa tidur, Kak.
Teacher: Terus kenapa kamu ngga telpon saja ke kakak?
Anak 2: Aku ngga punya nomor kakak.
Teacher : Ini aku kasih, telpon saja kakak kalau lagi sedih atau bingung ya.

Selesai diskusi, anak-anak melanjutkan dengan free-choice play. Salah satu hal yang sangat penting dalam pertumbuhan emosional yang sehat adalah adanya seseorang yang bisa didekati oleh anak saat ia sedang merasa bingung atau sedih. Saat kedua orang tua sedang marahan, si anak memerlukan seseorang di luar kedua orang tuanya yang bisa membantu dirinya memahami situasi yang membingungkan tersebut. Itulah salah satu peran guru di Saraswati, dan apa yang dilakukan oleh teacher adalah memberitahu anak-anak bahwa mereka memiliki orang ketiga tersebut yang sangat care terhadap diri mereka, dan bahwa mereka bisa mengkontak kapan saja.